




Dua gadis itu jatuh tersungkur ke tepi parit kebun tebu ketika sepedamotor yang mereka tumpangi tertabrak sebuah Daihatsu Espass dari belakang. Itsna Wiqoyati, gadis dengan jubah warna kopi susu dan jilbab panjang sewarna mencoba duduk beringsut. Pergelangan kakinya seperti terkilir. Sedang temannya Nurrahma yang memakai jubah dan cadar serba hitam masih tergeletak pingsan. Kakinya tertindih roda motor bebek tua yang dikendarainya.
"Aduh dik, maaf ya, nggak sengaja. Temanmu itu, nggak apa-apa?" kata seorang lelaki yang turun bersama temannya.
Dengan wajah agak merengut, mahasiswi Fakultas Adab berusia sekitar 24 tahun itu menjawab. "Saya nggak apa-apa, cuma kaki ini sakit sedikit, tapi teman saya ini... kayaknya pingsan," katanya, menunjuk temannya. Dua lelaki itu turun ke parit kering, melepaskan kaki Rahma dari himpitan motor. Yang seorang mengecek denyut nadi di pergelangan gadis bersarung tangan hitam itu. Cuma pingsan. "Wah denyut nadinya nggak keruan, harus cepat dibawa ke RS," ujarnya berbohong.
Dengan wajah agak merengut, mahasiswi Fakultas Adab berusia sekitar 24 tahun itu menjawab. "Saya nggak apa-apa, cuma kaki ini sakit sedikit, tapi teman saya ini... kayaknya pingsan," katanya, menunjuk temannya. Dua lelaki itu turun ke parit kering, melepaskan kaki Rahma dari himpitan motor. Yang seorang mengecek denyut nadi di pergelangan gadis bersarung tangan hitam itu. Cuma pingsan. "Wah denyut nadinya nggak keruan, harus cepat dibawa ke RS," ujarnya berbohong.
Itsna tampak khawatir. Ia mencoba berdiri dan berjalan tertatih. "Iya, tolong antar ke RS," katanya.
"Situ nggak apa-apa?" sahut lelaki di atas.
"Situ nggak apa-apa?" sahut lelaki di atas.
"Nggak, nggak apa-apa, yang penting teman saya," sahutnya. Dengan cemas dipandanginya temannya dibopong salah satu lelaki. Lelaki satunya menjulurkan tangan untuk menolongnya naik dari parit.
Itsna ragu, belum pernah ia bersentuhan kulit dengan lelaki sebelumnya. "Nggak apa-apa," kata lelaki itu ketika melihatnya ragu.
Itsna ragu, belum pernah ia bersentuhan kulit dengan lelaki sebelumnya. "Nggak apa-apa," kata lelaki itu ketika melihatnya ragu.
Akhirnya gadis itu menurut, dibiarkannya lelaki itu menggenggam tangannya yang mungil dan lembut untuk menariknya ke atas.
***
Itsna terkejut ketika melihat di dalam mobil Rahma sudah dibaringkan di atas pangkuan dua lelaki. Ternyata di dalam mobil sudah ada empat lelaki lain. "Mobilnya penuh, kita duduk di belakang," ajak lelaki di
sebelahnya ketika melihat Itsna kembali ragu.
***
Itsna terkejut ketika melihat di dalam mobil Rahma sudah dibaringkan di atas pangkuan dua lelaki. Ternyata di dalam mobil sudah ada empat lelaki lain. "Mobilnya penuh, kita duduk di belakang," ajak lelaki di
sebelahnya ketika melihat Itsna kembali ragu.
"Motornya?" tanya Itsna.
"Nanti kita laporkan ke penduduk di sana, supaya diurus," timpal lelaki itu sambil menunjuk rumah di ujung jalan kampung itu.
"Nanti kita laporkan ke penduduk di sana, supaya diurus," timpal lelaki itu sambil menunjuk rumah di ujung jalan kampung itu.
Akhirnya Itsna duduk di belakang. Dua lelaki yang tadi menolong duduk di depannya. Mobil kini mulai bergerak. Baru sekitar lima menit berjalan, tape mobil disetel keras dengan musik yang memekakkan
telinga. Isna mengerutkan keningnya.
telinga. Isna mengerutkan keningnya.
"Bisa dikecilkan musiknya? Kepala saya pusing," katanya. Anehnya lelaki di depannya justru tersenyum-senyum. "Jangan-jangan karena kakimu yang sakit itu," kata lelaki yang tersenyum.
"Eh dab, temon sing iki ayu banget," tahu-tahu salah satu lelaki yang memangku Rahma menengok ke belakang. Dua temannya langsung melongok ke depan. Betul saja, cadar Rahma telah disingkap sehigga menampakkan wajahnya yang ayu dengan mata terpejam. "Eh, lho-lho..." Itsna terkejut. Ia makin terkejut lagi ketika mendengar kalimat selanjutnya. "Susune gede, tur tempik-e kandhel...ha... ha," keenam lelaki di dalam mobil itu tertawa berbarengan. Ternyata dua lelaki yang memangku Rahma telah merabai sekujur tubuh mahasiswi yang pingsan itu. Tangan keduanya bahkan telah jauh merogoh ke dalam celana dalam dan bhnya.
"Jembut-e piye?" tanya lelaki di depan Itsna.
"Jembut-e piye?" tanya lelaki di depan Itsna.
"Mulus, kethok-e durung suwe dicukur," Itsna bengong," Heii jangan kurangajar!" pekiknya. Kedua lelaki di depannya kini menatapnya. "Waduh lali aku nek ning kene yo ono sing iso dikurangajari," kata salah satu lelaki.
Kemarahan Itsna berubah menjadi ketakutan ketika salah satu lelaki pindah duduk ke sebelahnya. Nyalinya ciut mendadak ketika tahu-tahu telapak tangan kiri lelaki itu mendarat di payudara kirinya. Ia memekik sejadi-jadinya, apalagi kini kakinya yang sakit ditarik lelaki di depannya. Cepat sekali tangan lelaki itu masuk dan meremas pahanya. "Susu sing iki yo lumayan," "Pupune mulus!" kedua lelaki itu bersorak-sorak diiringi tawa para lelaki.
Itsna meronta sejadinya. Entah sejak kapan kedua tangannya telah terikat di belakang punggung. Ia kini duduk di lantai mobil dengan kepala bersandar selangkangan lelaki di belakangnya. Sementara lelaki
di depannya memegangi kedua pergelangan kakinya.
di depannya memegangi kedua pergelangan kakinya.
Dan .... "Aaahhhh....ngghhhh...jangaaannn...!!!" Itsna menjerit- jerit. Selangkangannya diinjak telapak kaki lelaki di depannya. Jari kaki lelaki itu bergerak-gerak, bahkan sekali mencubit gundukan daging di situ. Sementara lelaki di belakangnya leluasa terus meremasi payudaranya hingga terasa sakit. Jilbabnya telah tersingkap ke belakang, kancing atas jubahnya terbuka lima. Dengan kasar lelaki di belakangnya merenggut bh-nya. Itsna menjerit sejadinya.
Payudaranya yang tidak seberapa besar terlihat matang, dan itu cukup untuk membuat lelaki di depannya tertarik untuk menempatkan sebelah kakinya di payudara kirinya, mengguyer-guyer dan menjepit putingnya
dengan jempol dan telunjuk kaki. Itsna masih merintih-rintih ketika payudara satunya dicengkeram dari belakang lalu putingnya dijepit, dipilin, dipuntir kuat sambil ditarik ke atas.
dengan jempol dan telunjuk kaki. Itsna masih merintih-rintih ketika payudara satunya dicengkeram dari belakang lalu putingnya dijepit, dipilin, dipuntir kuat sambil ditarik ke atas.
Dalam keadaan sakit, kedua pahanya yang mulus diinjak lelaki di depannya hingga terpaksa mengangkang. Bagian bawah jubahnya tersingkap hingga ke pinggang. Tahu-tahu lelaki itu menunduk dan "Plak plak plak plak !!!" kedua payudaranya ditampar berganti-ganti hingga memerah. Itsna menangis... Tapi tangisnya malah membuat lelaki itu makin bernafsu. Tangannya kini mulai menyentuh kemaluannya yang tertutup celana dalam putih. Jari-jarinya lalu mendorong bagian muka secarik kain itu hingga terselip di celah di pangkal pahanya.
"He he, jembutmu lumayan juga, non!" kata lelaki itu lalu mencerabuti
secara membabi buta. Itsna menggigit bibirnya. "Aihhhh!!!" Ia kini memekik ketika celana dalamnya tiba-tiba direnggut. Tak cuma itu, kedua lelaki yang meringkusnya kini mengguntingi pakaian dan jilbabnya. Tak lama kemudian, tubuhnya betul-betul bugil, tinggal jilbab yang juga terpotong hingga sedikit di bawah dagu.
***
"Aaaahhh....ngghhhhh...auwwwhhh..." Tiba-tiba dari kursi tengah terdengar jeritan perempuan. Kedua lelaki yang sedang menggarap Itsna bangkit, melongok. Ternyata Rahma juga sudah seperti Itsna, bugil dengan jilbab dan cadar yang tinggal sedikit di bawah dagu. Kedua puting susunya terlihat dijepit dengan jepit kertas berwarna hitam. Kedua bibir kelaminnya yang bekas dicukur bahkan dijepit masing- masing dua di dua sisi. Tidak cuma itu, jepit kertas tampak juga menjepit klitorisnya. Tangan gadis bercadar itu juga terikat dibelakang punggung. Semua lelaki terbahak-bahak.
secara membabi buta. Itsna menggigit bibirnya. "Aihhhh!!!" Ia kini memekik ketika celana dalamnya tiba-tiba direnggut. Tak cuma itu, kedua lelaki yang meringkusnya kini mengguntingi pakaian dan jilbabnya. Tak lama kemudian, tubuhnya betul-betul bugil, tinggal jilbab yang juga terpotong hingga sedikit di bawah dagu.
***
"Aaaahhh....ngghhhhh...auwwwhhh..." Tiba-tiba dari kursi tengah terdengar jeritan perempuan. Kedua lelaki yang sedang menggarap Itsna bangkit, melongok. Ternyata Rahma juga sudah seperti Itsna, bugil dengan jilbab dan cadar yang tinggal sedikit di bawah dagu. Kedua puting susunya terlihat dijepit dengan jepit kertas berwarna hitam. Kedua bibir kelaminnya yang bekas dicukur bahkan dijepit masing- masing dua di dua sisi. Tidak cuma itu, jepit kertas tampak juga menjepit klitorisnya. Tangan gadis bercadar itu juga terikat dibelakang punggung. Semua lelaki terbahak-bahak.
"Ha ha ha... sini aku minta jepitnya, cewek yang ini juga minta dijepit ha ha ha!" kata lelaki di belakang. Tujuh jepit kertas dengan cepat menjepit puting susu, bibir kelamin dan klitoris Itsna, diiringi jerit memilukan gadis Salatiga itu. Itsna kini dibaringkan di kursi panjang dengan paha mengangkang lebar. Salah satu lelaki dengan santainya menguakkan bibir luar kelamin gadis itu dan ... dua jepit kertas menjepit keras dua sisi labia minora yang lembut dan merah jambu. Itsna kembali menjerit dan meronta sejadinya. Sementara Rahma juga masih terdengar merintih-rintih memilukan.
***
Tak lama kemudian kedua gadis itu digelandang turun dari mobil, masuk ke sebuah rumah berhalaman sangat luas. Sebelumnya, jepit-jepit kertas di bibir kelamin keduanya diikat sedemikian rupa ke paha mulus masing-masing sehingga liang kelamin mereka terkuak lebar. Di samping itu, kedua jepit di puting susu mereka dihubungkan dengan seutas tali nilon yang tengahnya disambung dengan tali panjang. Dengan ujung tali panjang itulah keduanya diseret seperti hewan piaraan. Mau tak mau keduanya mengikuti tarikan tali yang menyakitkan puting susu mereka.
***
Tak lama kemudian kedua gadis itu digelandang turun dari mobil, masuk ke sebuah rumah berhalaman sangat luas. Sebelumnya, jepit-jepit kertas di bibir kelamin keduanya diikat sedemikian rupa ke paha mulus masing-masing sehingga liang kelamin mereka terkuak lebar. Di samping itu, kedua jepit di puting susu mereka dihubungkan dengan seutas tali nilon yang tengahnya disambung dengan tali panjang. Dengan ujung tali panjang itulah keduanya diseret seperti hewan piaraan. Mau tak mau keduanya mengikuti tarikan tali yang menyakitkan puting susu mereka.
Itsna dan Rahma berjalan mengangkang karena selangkangan mereka terasa amat sakit. Keduanya terus merintih-rintih... Sementara dari belakang para lelaki mencubiti pantat mereka yang bundar. Itsna kaget dan khawatir, ujung tali kemudian disampirkan ke besi yang melintang di atas dua tiang setinggi dua setengah meter, lalu diikatkan ke pengikat kedua tangan di belakang punggung. Itsna dan Rahma menjerit dan merintih, keduanya terpaksa jinjit agar puting mereka tidak makin tertarik ke atas. Namun bergerak sedikit saja sudah membuat puting itu seolah hendak putus. Seorang lelaki mendekatinya, mengelus-elus kelaminnya yang terkuak lebar. Itsna melengos, klitorisnya diuyel-uyel.
"Anak manis, kamu mau diperkosa ramai- ramai?" "Ohhh...jangan...ampun...jangan perkosa saya, apapun akan saya lakukan," rintihnya. "Kamu juga?" lelaki itu beralih ke klitoris Rahma. Gadis itu merintih pelan sambil mengangguk. Lelaki itu lalu mengangguk kepada teman-temannya. Kedua gadis itu agak lega karena tali yang menggantung puting susu mereka dilepas. Namun jepit-jepit di tempat-tempat sensitif tetap terpasang, begitu pula ikatan tangan mereka. Kelegaan mereka ternyata tidak ada artinya. Sebab, kini belasan lelaki mengelilingi keduanya dengan celana melorot dan penis menegang.
"Kalian berdua harus jongkok berkeliling, lalu mengulum kontol-kontol ini, masing-masing sepuluh detik. Ingat, begitu kalian muntah, terpaksa kalian harus diperkosa," ancam lelaki yang jadi pemimpin. Lalu ritual penghinaan itu pun dimulai, Itsna dan Rahma menahan rasa jijik demi keselamatan kegadisan mereka. Satu persatu penis 'memperkosa' mulut mereka. Pada putaran pertama tidak ada masalah, tapi masuk putaran kedua, seorang lelaki mulai menyemprotkan spermanya, sebagian masuk ke mulut Itsna, sebagian lagi menodai pipi dan ujung hidungnya. Lalu lelaki kedua menyusul, ketiga dan seterusnya. Mulut Itsna dan Rahma mulai penuh cairan yang lengket dan berbau menjijikkan. Wajah Itsna hampir seluruhnya basah air mani yang juga menetes ke pucuk payudaranya. Sementara kedua mata Rahma telah terpejam karena sperma beberapa kali menyemprot tepat di situ. Sedang cadar hitamnya juga mulai terlihat keputihan oleh cairan lengket itu. Hingga akhirnya saat orang kedua belas memaksa Rahma menyedot habis spermanya dan menjilati batang penisnya, gadis itu tak tahan lagi. "Hoeekkhhh...hoekhhh..." ia muntah sambil terjatuh, meringkuk memegangi mulutnya. Tapi para lelaki justru tertawa-tawa.
Itsna yang masih menahan mual melihat dengan ngeri. Tak kurang enam lelaki kini memegangi temannya. Kaki dan tangannya dipegangi terentang. Payudaranya jadi rebutan remasan. "Ha ha... sekarang dia boleh diperkosa...ayo puas-puasin!" kata si pemimpin.
Rahma tak berdaya, jepit di seputar memeknya kini dilepasi dan sekejap saja penis para lelaki itu berebut menyodok memeknya. Darah keperawanannya mengalir diiringi jerit tangisnya. Itsna pucat pasi, pemerkosaan itu begitu brutal. Ia melihat, seorang lelaki menancapkan penisnya dalam-dalam ke memek Rahma dari belakang, lalu tubuh gadis itu dibaringkan di atas lelaki pemerkosanya. Tubuhnya siap diserangdari atas. Rahma menjerit keras ketika dari atas, satu lagi penis dipaksa masuk ke lubang memeknya yang sempit. Pada saat itu juga, cadarnya kembali disingkapkan dan satu lagi penis masuk ke mulutnya.
Pada saat lain, Rahma disodomi, lalu diperlakukan seperti sebelumnya. Memeknya diperkosa dari atas, begitu pula mulutnya. Jepit di puting susu Rahma yang belepotan sperma akhirnya dilepas. Daging mungil kehitaman itu terlihat gepeng, tapi karena elastisnya, sebentar saja kembali bundar. Rahma akhirnya terkulai lemas direrumputan dengan tatap mata kosong. Seluruh tubuhnya praktis ternoda cairan lengket keputihan. Para pemerkosanya kini kembali kepada Itsna yang makin ketakutan.
"Memangnya enak ya air mani kami?" kata seorang lelaki sambil memaksa Itsna menjilati leher penisnya yang belepotan sperma sehabis memperkosa Rahma tadi.
"Heh jawab!!"
"Aduhhh....nggak...nggak enak, hik...hu huuu," Itsna mengaduh dan menggeleng karena payudaranya tiba-tiba ditampar keras sekali. Air matanya mengalir di pipinya yang semula mulus tapi kini penuh cairan lengket. Bahkan kedua belah kacamatanya pun penuh noda itu. "Kalau nggak enak kok kamu nggak muntah kayak temanmu yang memeknya sudah jebol itu?"
"Heh jawab!!"
"Aduhhh....nggak...nggak enak, hik...hu huuu," Itsna mengaduh dan menggeleng karena payudaranya tiba-tiba ditampar keras sekali. Air matanya mengalir di pipinya yang semula mulus tapi kini penuh cairan lengket. Bahkan kedua belah kacamatanya pun penuh noda itu. "Kalau nggak enak kok kamu nggak muntah kayak temanmu yang memeknya sudah jebol itu?"
Itsna diam saja, tapi terus dipaksa menyedot sperma dari penis para lelaki yang tadi memperkosa temannya. Tanpa setahu Itsna, para lelaki itu menyendoki sperma di memek Rahma dan yang belepotan di
sekujur tubuhnya lalu menampungnya di gelas. Terkumpul setengah gelas cairan putih kental yang berbau menjijikkan.
sekujur tubuhnya lalu menampungnya di gelas. Terkumpul setengah gelas cairan putih kental yang berbau menjijikkan.
"Kalau ini pasti kamu nggak tahan, ayo diminum...ingat, begitu muntah, nasibmu seperti temanmu yang nggak punya jembut ini," kata si pemimpin sambil melepaskan jepit kertas di klitoris dan bibir memek Itsna. "Siap-siap kalau kamu nggak tahan," lanjutnya sambil mencabut beberapa helai jembut gadis itu. Itsna ketakutan, ia dipaksa duduk lalu kepalanya ditengadahkan. Jari-jari kasar para lelaki memaksa bibirnya yang indah membuka. Dan... isi gelas itu pun ditumpahkan sekaligus ke dalamnya! Pandangan mata Itsna kabur, rasa mual membuat isi perutnya hampir tumpah. Namun ia bertekad tidak akan muntah, sebab pemerkosaan lebih menakutkan baginya.
Seputar bibir Itsna tampak bernoda sperma. Tapi para lelaki itu memandang dengan heran sekaligus jengkel. Sebagian besar isi gelas telah ditenggak gadis itu, tapi ia tetap saja tidak muntah. "Coba yang ini!" kata seorang lelaki. Ternyata, ia telah memasang dua sedotan plastik ke dalam dubur Rahma. "Tadi, enam kali cewek ini
disodomi, kira-kira mani di dalamnya sebanyak setengah gelas," lanjutnya.
disodomi, kira-kira mani di dalamnya sebanyak setengah gelas," lanjutnya.
Itsna menahan rasa mualnya ketika dipaksa mengulum kedua puting susu Rahma yang penuh sperma. Ia juga dipaksa menyeruput isi memek Rahma yang tadi diperkosa berulang-ulang. Pada saat yang sama, bibir para
lelaki mulai menyentuh memek Itsna, menjilati dan seperti hendak memakannya, mengunyah labia minoranya yang basah dan kemerahan. Hingga akhirnya, dua sedotan itu dipaksa masuk ke bibirnya. Di bawah tatapan mata para lelaki, kecuali yang tengah menikmati memeknya, Itsna mulai menyedot. Sedotan bening itu kini terlihat putih cairan sperma yang masuk ke lubang pantat Rahma. Bulu kuduk Itsna meremang,
matanya terpejam menahan rasa mual karena aroma sperma yang telah masuk ke pantat Rahma begitu menjijikkan...Dan ... "Hoekhhhh..." Itsna tak tahan.
lelaki mulai menyentuh memek Itsna, menjilati dan seperti hendak memakannya, mengunyah labia minoranya yang basah dan kemerahan. Hingga akhirnya, dua sedotan itu dipaksa masuk ke bibirnya. Di bawah tatapan mata para lelaki, kecuali yang tengah menikmati memeknya, Itsna mulai menyedot. Sedotan bening itu kini terlihat putih cairan sperma yang masuk ke lubang pantat Rahma. Bulu kuduk Itsna meremang,
matanya terpejam menahan rasa mual karena aroma sperma yang telah masuk ke pantat Rahma begitu menjijikkan...Dan ... "Hoekhhhh..." Itsna tak tahan.
Satu muntahan kecil, mengeluarkan cairan kental yang cukup banyak, jatuh di pantat Rahma yang bundar. Serigala-serigala kelaparan itu tertawa melihat anak domba telah masuk perangkap. Itsna, anak domba itu, menjerit-jerit percuma saat tangan dan kakinya direnggangkan. Lalu si pemimpin, dengan penisnya yang amat besar dan panjang langsung menindihinya. Itsna histeris, rasa mual kini berganti perih tak terhingga saat memeknya dikoyak benda itu hingga berdarah-darah. Lalu nasibnya tak beda dengan Rahma, belasan lelaki bergiliran menyetubuhi memek dan pantatnya. Berkali-kali memeknya dimasuki sekaligus dua penis atau memek, pantat dan mulutnya diperkosa sekaligus.
***
Sekitar pukul 4 sore, kedua mahasiswi itu terkulai kelelahan di bawah kaki belasan lelaki. Tubuh keduanya betul-betul basah oleh cairan putih kental. Rasa sakit nyaris membuat bagian tubuh mereka mati rasa. Itu sebabnya kedua gadis manis itu hanya bisa mengerang lemah saat biji kedondong yang kasar dimasukkan ke dalam memek mereka.
***
Sekitar pukul 4 sore, kedua mahasiswi itu terkulai kelelahan di bawah kaki belasan lelaki. Tubuh keduanya betul-betul basah oleh cairan putih kental. Rasa sakit nyaris membuat bagian tubuh mereka mati rasa. Itu sebabnya kedua gadis manis itu hanya bisa mengerang lemah saat biji kedondong yang kasar dimasukkan ke dalam memek mereka.
Tapi keduanya menjerit histeris saat kedua puting susu masing-masing ditembus peniti. Apalagi masing-masing peniti dibanduli batu baterai besar. Dengan tangan terikat, kedua gadis itu kembali digelandang kedalam kijang box. Di dalam box, mereka terus mengalami siksaan dan hinaan. Itsna misalnya, dikuakkan bibir memeknya, lalu seorang lelaki menyundut klitorisnya dengan rokok hingga ia menjerit kesakitan.
Sementara di pantatnya yang bundar, seorang lelaki membuat tatto bergambar penis. Rahma juga menjerit ketika klitorisnya disemati peniti yang juga dibanduli baterai besar. Ternyata keduanya kembali dibawa ke kebun tebu. Di tempat itu, para lelaki menyiapkan kembali motor butut Rahma. Rahma dipaksa duduk di depan, lalu para lelaki mengikat pergelangan tangannya di setang. Baterai yang berayun-ayun di depan selangkangannya sungguh menyiksa, apalagi di dalam memeknya biji kedondong juga menimbulkan pedih tak
terperi.
terperi.
Para lelaki itu lalu mendudukkan Itsna berpunggungan dengan Rahma. Tangan gadis itu diikat ke jok motor, begitu pula kedua pahanya yang mulus. Tidak cukup begitu, para lelaki mengikat sepasang payudara keduanya, masing-masing di pangkal sehingga buah-buah dada itu menggelembung. Lalu tali pengikat buah dada kanan Itsna ditarik dan disambung sehingga saling mendekat dengan buah dada kiri Rahma. Begitu pula payudara kirinya yang disambung dengan payudara kanan Rahma. Sementara cabikan-cabikan celana dalam dan BH keduanya disampirkan di kaca spion.
"Ayo, sekarang dislag!" perintah pemimpin pemerkosa sambil menyundut puting susu kanan Rahma hingga melepuh. Sambil menjerit dan menangis Rahma menstarter motornya dengan menahan sakit di klitorisnya. Sementara Itsna juga menangis sejadinya saat baterai yang menggantung di kedua putingnya diayun-ayunkan. Setelah berkali-kali dislag, mesin motor akhirnya hidup juga. Diiringi sorak para lelaki, tak kurang 8 batang rokok diselipkan masing-masing 4 di lubang memek keduanya.
Rahma langsung tancap gas, tanpa mempedulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Hari belum gelap ketika beberapa saat menjelang masuk perkampungan, bara rokok di memek keduanya sampai menyentuh kulit yang lembut. Ketiganya tak kuasa untuk menahan jerit dan tangis. Jeritan mereka mengundang perhatian orang kampung untuk keluar rumah.
Dan akhirnya, Rahma tak kuasa menahan sakit dan malu, ia pingsan di depan gapura masuk kampung. Motor itupun untuk kedua kalinya tergelimpang, kali ini dikerumuni warga kampung yang terheran-heran menyaksikan kedua gadis berjilbab tetapi telanjang itu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar