Senin, 04 Oktober 2010

a

Ini cerita sewaktu Toni masih kuliah di Jogja dan tinggal di belakang sebuah pondok pesantren putri.

Tubuh Safira ternungging di ranjang. Ia menangis tersedu-sedu. Lekuk pantatnya yang bulat montok tampak tercetak jelas beserta garis celana dalamnya di permukaan kain jubahnya yang tertarik kencang karena posisi menunggingnya itu. Bahkan karena tipisnya kain jubahnya, Toni bisa melihat dengan cukup jelas warna celana dalamnya yang terbayang. Warna merah muda. Bajingan itu meneguk air ludah menyaksikan keindahan pantat cewek asal Jepara itu.

“Ampuuun Maasss.. Jangan perkosa saya... Huuh huuuuhhuuu..!” ratap Safira memohon-mohon dengan wajah basah bersimbah air mata. Tapi tangisan dan ratapannya hanya semakin menambah nafsu birahi Toni.

“Hehehe. Aku tidak akan memperkosamu, Manis. Cuma ingin tahu gimana rasanya memek perawan seorang santri kayak Safira”, kata Toni sambil menyingkap jubah panjang birunya ke atas pinggulnya. Siswi kelas 2 madrasah Aliyah itu terpekik dan berusaha menutupi auratnya sebisa mungkin tapi sia-sia. Kini terpampanglah pantat putih montoknya yang terbungkus celana dalam pink yang tipis.

”Ampuuun Masss, jangann lakukan ini padakuuuu, Mas Kasihan Maass”, ia hanya bisa menangis. Tapi Toni masih bisa menahan nafsu. Dia tak mau terburu-buru menikmati hidangan lezat yang terhidang di depan manya itu. Toni ingin melakukan blowjob pada tubuh Safira dulu. Kedua tangannya meremas-remas kedua bongkahan bulat pantat santri yang telah 10 kali khatam al Quran itu. Jari-jarinya menelusuri paha Safira yang putih mulus mengkilap, sampai akhirnya jari-jari itu menyentuh permukaan cdnya yang membukit. Gadis itu sedikit histeris ketika memek mungilnya yang tembam itu tersentuh oleh jemari lelaki. Toni menggosok-gosok dan meremas dengan gemas memek itu

Arrrgggghhhhkkkhh!!!! Oooukkkhhhh.Massss! Arrgghhttt.. henttikaaaan! Henttikkann Masss! Toloooong hentikaaan Masss Jangaaan Aaarrrggghhh.!” Suaranya bergetar, dan tubuh menggeliat-geliat liar. Tak lama kemudian Toni merasakan celana dalam gadis berjilbab lebar itu mulai basah oleh cairan memeknya yang keluar. Itu adalah tanda santri juara MTQ tersebut mulai terangsang oleh blowjob pada memeknya.

”Sudaaah, sudaaah Masss,  Aaaakkhhhhh.. Safiraa tidaaak mauuu”,  Safira memohon-mohon dengan air mata bercucuran deras di antara rasa nikmat yang melanda kemaluannya.

Tempik gadis berjilbab itu seperti kue apem, mungil tapi tembam membukit dengan lekuk yang masih berbentuk segaris. Begitu bersih dan mulus dengan bulu-bulu halus habis dicukur. Safira memang selalu rajin dan telaten merawat auratnya yang paling berharga itu sehingga tak heran jika Toni merasakan memek itu begitu wangi karena rajin dibersihkan dengan sirih.

Safira menangis tersedu-sedu sangat malu. Karena itulah pertama kali vaginanya dilihat oleh seorang lelaki. Jangankan vagina, betisnya pun tak pernah dilihat orang karena selalu tertutup rapat oleh jubah panjang. Kini Safira merasa begitu terhina, habis sudah dirinya. Habislah sudah kehormatannya sebagai seorang santri santun nan sholehah. Memeknya bukan hanya telah dilihat, tetapi juga sedang digarap oleh orang. Dicicipi, dinikmati, direngut kenikmatan surgawinya.

Ia berusaha menghindar ketika lidah basah Toni menjilati alur pantat dan memeknya. Lidah itu mengkritik lubang anusnya yang mungil keriput, membuat nafas Safira tersengal-sengal. Tapi lidah itu begitu liar, mengulas dan menusuk-nusuk. Dengan tangan Toni melebarkan celah pantat indah Safira, agar lidahnya semakin leluasa menikmati lubang berak gadis itu.

”Ooohh, jangaaan” Safira tersedak ketika lidah Toni menyelinap ke dalam lubang anusnya. Tanpa rasa jijik sedikitpun, Toni terus menjilat bahkan kemudian menghisap-hisap lubang pembuangan Safira. Seolah-olah lubang berak gadis berjilbab itu makanan yang sangat lezat. Memang begitulah yang dirasakan Toni, lubang anus gadis itu baginya memang sungguh lezat dan gurih. Mengingat itulah pertama kalinya ia merasakan lubang dubur seorang gadis berjilbab. Santri lagi. Lubang anus Safira memang berbeda dengan lubang anus gadis-gadis lain yang pernah ia cicipi, baik aroma maupun rasanya. Rasanya manis-manis asem, sedangkan aroma yang dikeluarkannya sedikit legit dan lebih harum.

Puas dengan lubang dubur, kini lidah Toni menjalar ke bawah, ke alur memek Safira yang sudah terkuak basah. Semakin lama memek itu semakin basah, tak henti-hentinya mengeluarkan cairan legit nan sedap. Tergetar-getar tubuh Safira diperlakukan sedemikian rupa. Scruppp scrupppppppp terdengar bunyi tembik mungil Safira disedot dan terdengar pekik lolong tangisan Safira meminta ampun dan belas kasihan

Seluruh tubuhnya terasa mengejang, Safira berusaha bertahan tapi jebol. Rasanya seluruh cairan tubuhnya berkumpul di vaginanya. Tubuhnya mengejang kaku dan akhirnya kenikmatan surga dunia itu meledak dashyat. Dari dalam liang tempik, cairan bening kekuning-kuningan menyembur keluar dengan deras. Begitu banyak seolah tak mengalir tak habis-habisnya.

Sluuurrppp! Sluuurrrpp.. sluuuppp!” Toni menghirup seluruh cairan orgasme Safira yang melekitkan keluar dengan amat rakus. Baru kali ini ia mencicipi cairan vagina perempuan yang begitu harum, lezat dan gurih. Ah, ternyata rasa cairan orgasme gadis berjilbab memang berbeda, simpulnya penuh kepuasan.

“Ooohhh.. Masss jahaaat.. Huuuuhh huuuhhh..!”, tangis Safira terisak-isak setelah mengeluarkan orgasme pertamanya yang begitu dashyat hingga seluruh persendian tubuhnya lemas. Memek mungil namun tembam gadis itu tampak kemerah-merahan.

“Gimana rasanya, Sayang? Enak kan?’ bisik Toni sambil menciumi pipi mulusnya yang basah oleh air mata.
“Kau bajingan!” jerit Safira dengan mata merah.

“Hahaha. Aku memang bajingan, tapi aku barusan telah memberimu kenikmatan”,  tawa Toni penuh kemenangan, “Tapi itu belum apa-apa.. Aku akan membuatmu merasakan yang lebih nikmat lagi, memberimu pengalaman yang tak terlupakan..”

Kini tubuh molek menggiurkan itu ditelentangkan di atas ranjang. Safira berusaha mempertahankan diri dengan mengatupkan kedua pahanya rapat-rapat dan menyilangkan kedua tangannya menutup buah dadanya yang kencang. Tapi apa dayanya menghadapi seorang lelaki yang sudah diamuk nafsu birahi. Toni merentangkan tangannya ke samping dengan kasar dan meremas sebelah buah dadanya. Safira merintih-rintih. Dengan buas mulut Toni kemudian mengulum dan menghisap kedua puting susunya yang meruncing tegak dan masih berwarna pink.

“Ooh, Masss.. suudaahh. sudaaah Maass,Aarrrrggghh..!”, Safira hanya bisa memohon-mohon belas kasihan dengan suara serak di antara isak tangisnya yang mengiba ketika Toni berusaha mengangkangkan kedua paha mulusnya lebar-lebar agar selangkangannya terbuka. Tapi lelaki itu sudah menempelkan ujung batang penisnya ke bibir vaginanya yang basah.

“Ampuun Masss.. Huuuhhh jangaaaan, Safira gak mau dikenthuuu, Masss.. Huuhuuuu! Safiraa gaaak mauuu!!!” tangisnya tersedu-sedu ketika kedua pahanya yang terkangkang lebar membuat lipatan memeknya terkuak, “Jangaaaan.. jangaaan.. Ooh, jangaan!”

“Aaaaaaarrrrggggkkhhhhhhhhh… Jangaan Maasssssssss!!!” jerit Safira histeris ketika merasakan sesuatu benda tumpul yang hangat perlahan menyeruak masuk ke bibir vaginanya.

Liang memek gadis itu berkedut-kedut menjepit erat batang penis Toni yang besar nan panjang, seperti menyedot-nyedot. Belum pernah rasanya ia mendapatkan liang memek senikmat ini.
“Aaarrkkhhh”! Aaaarrkkhhh”, teriak Safira melengking setiap kali Toni menghentakkan pinggulnya menghujamkan batang kontol sedalam-dalam ke dalam liang tempiknya yang sempit. Namun setelah beberapa lama

"Oohhhh kentthuuu! Oohh kentthuuu! Aaarrrkkhhhh!!" erang Safira dengan suara yang tiba-tiba berubah sangat manja. Kedua tangannya yang halus mencengkram pundak Toni, sementara kedua pahanya yang mulus menjepit kuat pinggang pemerkosanya. Wajahnya yang berjilbab lebar terdongak ke atas dengan kedua mata indahnya yang tampak merem-melek, sementara dari mulutnya yang mungil basah terdengar desisan, rintihan, desahan, erangan nikmat tiada henti.

"Oooohhhh.. Sudaaahh... Suddaaaah.... Ohhhh, eenaaakk, oohh enaaakk Massss.. Ampuuuunn...ohh ampun...",  gadis ABG berjilbab itu mengerang-erang hebat merasakan nikmatnya sensasi diperkosa orang. Setiap hujaman kontol Toni ke liang memeknya, disambut gadis berjilbab yang santun dan sholehah itu dengan hentakan pinggul indahnya ke atas.

Sambil menangis, Safira naik ke atas tubuhku. Tubuhnya yang putih montok tampak begitu indah oleh keringat yang mengkilap. Pelan-pelan santri alim itu berjongkok di batang kontolku yang sudah mengacung tegang. Ia mendesis ketika ujung kontolku yang bulat menyentuk permukaan vaginanya yang basah kuyup. Dengan air mata bercucuran deras, ia lalu membuka kedua paha mulusnya lebar-lebar hingga selangkangannya terkangkang memamerkan memek indahnya yang telah kuperawani. Jari-jemarinya yang lembut gemetar ketika meraih kontolku, mengenggamnya lalu menuntunnya ke lubang vaginanya yang sudah terkuak merah basah. Perlahan tapi pasti batang kejantananku itu ditempelkannya tepat-tepat di bibir lubang memeknya yang nikmat tersebut lalu ditekannya ke dalam. Bersamaan dengan itu ia menurunkan pantatnya semok. Hingga: Bleesss!!! bleeesss!! Batang kontolku langsung terbenam ke dalam liang senggama gadis berjilbab itu sampai setengah.

"Oooh, Tuhan nikmatnya! "Liang basah yang baru pecah perawan itu terasa sempit sekali. Wajah cantik berjilbab putih yang basah oleh air mata itu tampak mengernyit menahan sakit. Kedua tangan Toni mencengkram pinggulnya erat-erat, lalu menghentakkan kontol ke atas.

"Uugh!" keluhnya tertahan ketika seluruh batang kejantanan Toni melesat masuk ke dalam liang senggamanya. Air mata kembali meleleh di sudut matanya. Indah sekali melihat wajah cantik dan manis yang masih mengenakan kerudung itu begitu mengibakan. Seumur hidup tak pernah Toni bayangkan pemandangan seindah ini, di mana seorang gadis, seorang santri alim dan santun yang begitu cantik dan manis telanjang bulat dengan tubuh molek berkilau oleh keringat dan jilbab lebar masih terpasang di kepala duduk di atas tubuhnya dengan kontol besar nan panjangnya tertancap di liang vagina suci si gadis.

"Ooohhhh" ooohhhh....arrrrkkhhhh... mauuu nyamppeeee... Firaaaaa mauuuu nyamppeeeee, Maasss!!! Aaaaaaaaarrrrrkkhhhhhh!!!!" gadis berjilbab itu menggerakkan pinggul moleknya sejadi-jadinya, menggoyangkan pantat bulatnya semakin cepat dan menghempaskan pinggulnya sekuat-kuatnya. Sehingga batang kontol Toni bak sepotong kayu menghujam-hujam liang senggamanya dengan keras dan deras.
Tak perlu lama Sepasang mata gadis dengan jilbab putih yang masih terpasang rapi di kepalanya itu mendelik ke atas. Wajahnya merah padam, dan mulutnya ternganga lebar. Indah sekali menyaksikan ekspresi wajahnya yang berjilbab itu merah padam menahan kenikmatan tak terlukiskan di puncak senggama.

"Aaaaarrrkkkkhhhh... keluaaarrrr! Akuuuuuuu.... keeeluuuuuuaaaaarrrrrr. Arrrggghkkkhh ....nikmmaaaattttt!!!" Raungnya histeris dan menggerakan pinggul menjadi-jadi. Toni merasakan batang kontolnya laksana dimasukkan dalam mesin penggiring. Dan seeeerrrr seeeerrrseeerrr cairan vagina Safira muncrat deras membasahi batang kontolnya. Terasa hangat dan lengket.

Hampir magrib persetubuhan nikmat itu baru berakhir. Toni membantu gadis itu memakai kembali bra dan celana dalam serta jubah panjangnya. Agak terkangkang-kangkang Safira berjalan pulang ke asramanya. Kegadisannya hilang sudah, hatinya hancur berkeping-keping tapi harus diakui juga kalau ia telah mendapatkan kenikmatan yang luarbiasa selama diperkosa tiga jam lebih oleh pemuda begundal itu.


Dokter Qomarul menerima perempuan berjilbab itu di ruang tamu rumahnya di tengah kampung di Bantul. "Saya tertarik materi pijat bayi yang ibu sampaikan tempo hari," kata perempuan itu.

"Ibu-ibu PKK di tempat saya ingin mendengar sendiri penjelasan ibu," katanya.

"Kapan?" sahut dokter Marul yang tampak cantik dengan jilbab biru panjang dan jubah biru tua kembang-kembangnya.

"Minggu, jam 10 pagi," jawab perempuan itu.

Dokter Marul melihat catatan jadwalnya berceramah di banyak tempat. "Baik, tapi saya dijemput ya?" sahutnya. Perempuan itu mengiyakan lalu pamit pulang. Dokter Marul melihat perempuan itu diboncengkan seorang lelaki. Perasaannya agak tak enak melihat tatap mata lelaki itu yang seperti menembus busananya. Minggu, pukul 09.45, perempuan itu datang sendirian, bersepedamotor.

"Bagaimana bu?" "Ayo, kita berangkat sekarang," Di jalan, motor melewati jalan-jalan kampung yang tak dikenal dr Marul. "Kok lewat sini sih?" tanyanya. "Kita nggak pakai helm bu, nanti kena tilang," katanya. Dokter Marul tak ambil pusing daerah mana yang ia lewati. Toh nanti ia diantar pulang. Sampai akhirnya, motor masuk ke sebuah rumah besar berpintu gerbang dan pagar tinggi, di tepi sawah, jauh dari rumah penduduk. Motor itu baru berhenti didalam garasi besar dengan beberapa mobil di dalamnya. Rolling door garasi ditutup.

"Silakan masuk bu..." Dokter Marul masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa besar. Heran juga ia, ini rumah kok mewah betul. "Mana ibu-ibunya?" "Di ruang dalam bu sama bayinya...sebentar ya," perempuan itu masuk lalu tak lama kemudian kembali. "Mari bu..." Dokter Marul mengikutinya. Ketika pintu ruangan dibuka, dokter Marul agak terkejut juga. Di dalam, ada lima perempuan, semuanya bercadar serba hitam, hanya mata saja yang terlihat. Apalagi tak seorang pun yang menjawab salamnya. Mereka hanya menganggukkan kepala. Dokter Marul duduk di hadapan para ibu itu. Sementara di tengah ruangan ada kasur digelar di lantai. "Bisa kita mulai?" tanyanya. "Sebentar bu, saya ambil bayinya," kata perempuan yang tadi menjemputnya. "Yuk, bantu saya bawa bayinya..." katanya kepada seorang ibu bercadar. Dokter Marul terkejut luar biasa waktu mendengar suara erangan perempuan.

Semua mata menoleh ke arah datangnya suara. "Ohhhh...." dokter Marul terpekik. "Bayinya nggak ada bu, ini gantinya..." perempuan itu menunjuk seorang perempuan yang terikat kedua tangannya di belakang punggungnya, telanjang bulat, hanya secuil jilbab di kepalanya, kini dihempaskan ke atas kasur di tengah ruangan. "Apa-apaan ini?" suara dr Marul gemetar. "Cewek ini perlu dipijat, bu dokter. Dia kecapekan diperkosa lima lelaki selama dua hari...ayo diperiksa bu..." Ragu-ragu Dokter Marul mendekat. "Lho, Bu Isnu?" ia memekik begitu mengenali perempuan itu adalah temannya.

"Siapa yang melakukan ini?" lanjutnya sambil memperhatikan sepasang payudara montok Isnu yang terlihat memar bekas remasan dan beberapa luka gigitan di sekitar putingnya. Isnu hanya merintih dan melirik ke lima perempuan bercadar. Dokter Marul mengikuti arah pandangan Isnu.

Ia memekik terkejut sekaligus takut ketika melihat 5 perempuan bercadar itu telah melepas kerudung dan cadarnya. Dan di baliknya, terpampang wajah-wajah kasar dan bengis lelaki. Dokter Marul kini ketakutan, apalagi kelima lelaki itu kini mengelilinginya sambil melepas satu persatu busana mereka. Ketika tinggal selangkah lagi, kelimanya sudah bugil dan... "Jangaaaannn..." Dokter Marul menjerit histeris saat payudara kirinya ditangkap dan dicengkeram kuat-kuat.

Ia coba menepiskan tangan itu, tapi kini malah kedua tangannya yang dipegangi. Dokter Marul menjerit lagi, putus asa. Sementara payudara kirinya masih disakiti, payudara kanannya pun mulai dicengkeram, diremas-remas dan sesekali ditarik, seperti hendak dilepaskan dari dadanya. Pekikan kecil kembali keluar dari bibirnya saat pangkal pahanya pun dijamah. Perempuan berusia 34 tahun itu makin panik ketika menyadari kedua tangannya telah terikat di belakang tubuhnya. Lalu ujung-ujung jilbab panjangnya pun diikat ke belakang lehernya.

Sekilas dokter Marul melihat perempuan yang tadi menjemputnya pun telah telanjang bulat, tetapi masih tetap mengenakan jilbabnya. Perempuan itu tampak tengah merapatkan wajahnya di selangkangan Isnu yang mengerang-erang. Sementara kedua tangannya meremas-remas payudara guru TK itu. "Bu dokter boleh teriak sekuat-kuatnya, tetapi jangan harap ada yang akan menolong," ancam lelaki yang tengah meremas selangkangannya seraya memperkeras remasannya.

"Aaiihhhhh...jangaaannn...addduhhhhh...sakkkiiiittt...jangaaaannnn.. ." dokter Marul akhirnya tak tahan untuk tak berteriak. Kulit kelaminnya terasa pedih karena cengkeraman lelaki itu membuat rambut kelaminnya tertarik.

"Bu dokter belum punya anak ya? Jangan khawatir, kami akan buatkan anak...he he... kembar lima..." lanjut lelaki itu, lalu berlutut di hadapan dokter Marul. Perempuan itu menjerit dan menangis ketika jubahnya yang coklat dan bermotif bunga-bunga kecil, digunting dua jengkal di atas lutut. Tetapi ternyata di baliknya masih ada rok dalam berwarna putih. Masih sambil memegang gunting, lelaki itu menarik turun rok dalam dokter Marul. Perlahan, paha yang putih mulus sedikit demi sedikit terlihat bebas. Pangkal paha perempuan itu cuma terlihat sedikit.

"Ngintip sedikit ya bu dokter ?" kata lelaki di bawah, sambil mengangkat ujung jubah yang terpotong hingga kini pangkal pahanya yang tertutup cd putih terlihat jelas. Celana dalam dokter yang juga aktifis Partai Keadilan itu tampak padat menggembung. Sekilas terbayang kehitaman di baliknya. Lima lelaki itu bersorak dan berebut berkomentar.

"Asyiiik... kita bakal lihat memek dokter," "Cepet buka celananya !" "Iya... gue mau gigit klentitnya !" Dokter Marul bergidik mendengar komentar-komentar jorok itu.

"Sebentar, aku lebih suka melihat yang ini dulu," lelaki di depannya tiba-tiba bangkit. Dokter Marul menggeliat saat lelaki itu menangkupkan kedua telapak tangannya di atas payudaranya dan meremas-remasnya dengan lembut. Dokter Marul terisak-isak ketika lelaki itu menggunting kain jubah di depan tonjolan payudaranya.

Dua lubang besar kini memperlihatkan payudaranya yang masih terbungkus BH. "Sekarang waktunya buka jendela," lelaki itu kemudian memotong tali BH sebelah kanan, dilanjutkan dengan tali di rusuk dan sambungan antara cup BH. Dijumputnya cup BH dokter Marul perlahan hingga terlepas.

"Aihhhh....!" dokter Marul terpekik. Wajahnya merah padam. Payudaranya yang sebelah kanan kini terbuka bebas. Tak seberapa besar tetapi tampak bundar dan padat. Putingnya yang hitam, bagaikan penghapus di ujung pensil. Payudaranya begitu putih dan mulus, sampai-sampai pembuluh darahnya yang biru kehijauan terlihat di balik kulitnya. Perempuan itu terus memekik-mekik, sebab satu persatu para lelaki bergantian meremasnya. Tak satupun yang melewatkan memilin-milin dan menarik-narik putingnya. Bahkan, merekapun menjilati dan mengulum daging mungil itu. Dokter Marul menggigit bibir dan memejamkan matanya. Tak sadar payudara yang satunya pun kini terbuka. Dokter Marul baru menjerit ketika lelaki pemegang gunting mengulum dan kemudian menggigit putingnya agak keras. Dokter Marul betul-betul panik. Ia kini dibaringkan di sebelah Isnu. Ia sempat melirik wajah Isnu dikangkangi perempuan berjilbab yang tadi menjemputnya. Perempuan itu terlihat menusuk-nusuk vagina Isnu dengan jarinya.

"Ayo, sekarang kita mengecek memek dokter !" tiba-tiba terdengar suara lelaki, seperti petir di telinga dokter Marul. Tetapi ia cuma bisa menjerit-jerit saat kedua kakinya diangkat dan direnggangkan selebar-lebarnya.

Pangkal pahanya kini betul-betul menjadi sasaran empuk. Beberapa pasang tangan langsung meraba, meremas dan menepuk-nepuk vaginanya yang masih tertutup cd. Dokter Marul menjerit lebih keras saat ada tangan yang menyusup ke balik cdnya. Tapi semua sia-sia. Celana dalamnya pun kini terenggut putus, menampakkan kelaminnya yang tampak segar dengan sedikit rambut tumbuh di situ. Kedua kaki dokter Marul ditarik ke arah tubuhnya. Akibatnya punggungnya kini melengkung dan pinggulnya terangkat. Lelaki yang tadi menggunting jubahnya merapatkan wajahnya ke vagina perempuan itu. Dikucek-kuceknya pintu masuk ke liang vagina perempuan itu. Dua jempolnya kini mulai menyusup di celah vaginanya. Dokter Marul merintih-rintih.

"Ciluuk.... baaaa !" lelaki itu melebarkan liang vagina korbannya. "Buseetttt.... gila !" teriaknya. Teman-temannya mendekatkan wajah ke vagina dokter Marul. Mereka melihat bagian dalam vagina dokter Marul yang pink dan tampak ada selaput masih utuh di situ.

"Bu dokter masih perawan ya? Makanya nggak punya-punya anak !"
Mendengar hal itu, para lelaki bersorak-sorak. Salah seorang dari mereka lalu menjilati pipi perempuan itu, lalu memaksa mengulum bibirnya.

"Kenapa masih perawan, Bu ? Kontol suami ibu nggak bisa ngaceng ya? Wah, bego betul dia. Ngelihat memek dan tetek ibu, lelaki harusnya bisa ngaceng !" katanya. Marul tak menjawab, ia menangis terisak-isak. Tetapi tak urung ia meronta-ronta saat seorang lelaki mengangkangi wajahnya dan menyodorkan sebatang penis yang meski belum tegang, tapi tampak menjuntai panjang. "Bu dokter belum pernah lihat kontol ngaceng kan?" katanya sambil memaksa dokter Marul mengulum penisnya.

Sebagai dokter, Marul tentu saja tahu soal oral seks. Tetapi sebagai perempuan 'baik-baik' ia tak pernah membayangkan bakal melakukannya, apalagi terhadap penis lelaki asing ! Namun, sekeras apapun penolakannya, para lelaki itu begitu berkuasa atas dirinya. Kini penis lelaki itu telah memenuhi rongga mulutnya. Dokter Marul bisa merasakan penis lelaki itu membesar dan mengeras hingga ia mulai kesulitan bernapas, karena pemilik penis itu mulai menggerakkan penisnya maju mundur sampai menyentuh kerongkongannya. Perempuan itu seperti akan pingsan menerima penghinaan hebat seperti itu.

Sementara mulutnya diperkosa, sepasang payudaranya tak henti dipermainkan. Kedua putingnya mengeras dan panjang akibat terus dihisap dan ditarik-tarik para pengeroyoknya. Sementara vaginanya betul-betul basah karena terus dijilati dan dikunyah para lelaki berganti-ganti. "Suruh nungging cewek itu di sini," kata lelaki yang sedang memperkosa mulut dokter Marul. Tampaknya ia pemimpin komplotan ini. Dua lelaki kemudian menyeret Isnu dan membuatnya menungging di sisi kepala dokter Marul. Pimpinan komplotan itu kemudian memutar kepala dokter Marul hingga wajahnya menghadap selangkangan Isnu.

"Ayo bu dokter, lihat memek cewek ini," katanya sambil menusukkan dua jari ke vagina Isnu yang tampak memar. "Saya ingin tunjukkan padamu bagaimana seharusnya kontol lelaki," lanjutnya sambil menarik keluar penisnya. "Suruh dia melihat terus. Kalau menolak, tarik pentilnya !" lelaki itu memberi perintah kepada teman-temannya. Jadilah dokter Marul melihat lelaki itu menghampiri Isnu dari belakang. Dokter Marul bisa melihat penis lelaki itu menekan liang vagina Isnu.

"Ini gunanya kontol, Bu ! Nanti ibu dokter juga harus merasakannya," lelaki itu lalu mendorong penisnya, masuk sejauh-jauhnya ke vagina Isnu.

Dokter Marul menggigit bibirnya ketika mendengar rintih kesakitan Isnu. Lelaki itu tidak lama melakukannya. Ia tampaknya cuma ingin mempermainkan dokter Marul. Ditariknya penisnya keluar dan dipaksanya dokter Marul kembali mengulum penisnya yang kini berlumur cairan vagina Isnu dan sisa-sisa sperma bekas perkosaan di dalamnya. Dokter Marul mau muntah, tapi tetap saja ia melakukannya. "Tak cuma memek Bu. Lubang di sebelahnya juga bisa," lelaki itu lalu menarik keluar penisnya dari mulut dokter Marul dan kini menempelkan kepala penisnya ke liang anus Isnu. Dokter Marul memandang dengan penuh rasa ngeri saat melihat anus Isnu melebar terdesak penis yang lumayan besar itu. Apalagi, Isnu pun mengerang keras saat anusnya diterobos dengan kasar. Itu pun tak lama. Lelaki itu lagi-lagi mengeluarkan penisnya dan memaksa dokter Marul mengulumnya.

"Nah, sekarang saya ingin tunjukkan kepada bu dokter, bagaimana rasanya disetubuhi. Bu dokter baru tahu teorinya kan?" katanya. Kali ini perempuan itu betul-betul panik. Posisi tubuhnya yang terlentang dengan kaki mengangkang didorong merapat ke arah tubuhnya, membuat ia dapat jelas melihat vaginanya yang kini dituding penis lelaki itu.

"Aahh... jangannn... tolong... jangaaannnn..." perempuan itu mengiba-iba. Dilihatnya bibir vaginanya mulai membuka akibat ditekan kepala penis. Namun, dokter Marul tak bisa apa-apa. Apalagi empat lelaki lainnya pun terus mempermainkannya. Empat pasang tangan tak henti meraba sekujur tubuhnya.

Dokter Marul ingin memejamkan matanya, namun seorang di antara mereka memaksa kelopak matanya membuka. Karena itu, ia terpaksa menatap pemandangan mengerikan di hadapannya... "Memek bu dokter hangat juga nih ... " kata pemilik penis saat ujung penisnya mulai terjepit bibir vagina dokter Marul.

"Sudah....sudah...keluarkan....ahhh...aaaaaaaakkkkkhhhhhh !!!" Dokter Marul menjerit histeris. Sebab, lelaki itu dengan tiba-tiba mendorong penisnya maju. Perempuan itu merasa bagian bawah tubuhnya seakan terbelah.

Dokter Marul masih menjerit-jerit kesakitan. Tetapi lelaki itu dengan tenangnya membuat gerakan memutar-mutar pinggul. Akibatnya, penisnya yang besar dan panjang seperti mengaduk-aduk bagian dalam vagina dokter Marul. Sekujur tubuh perempuan itu menggigil menahan sakit.

"Nah, bu dokter sekarang bisa lihat yang namanya darah perawan. Mestinya ini pada malam pertama kan?" lelaki itu menarik keluar penisnya yang berlumur darah dan memaksa dokter Marul melihat.

"Kalian.... jahat... ihik..." dokter Marul terisak.

"Tepat ! Kami memang jahat. Dan sekarang saya ingin tunjukkan kejahatan lainnya..." lelaki itu lalu menunjukan sebuah botol kecil. Dokter Marul tak tahu isi botol itu, tapi dilihatnya lelaki itu mencolek krim dari dalamnya dan membaluri telunjuk dan jari tengahnya dengan krim itu.

"Hiaaaahhhhhhh....sakkkkiiittttt....!!!" Dokter Marul menjerit histeris. Lelaki itu dengan tidak berperasaan menusukkan dua jarinya itu ke anusnya dan langsung menggerakkannya berputar-putar.

"Husss... cup...cup....jangan teriak dulu sayang... Ini belum apa-apa. Sekarang coba yang ini..." lelaki itu langsung menekan anus dokter Marul dengan ujung penisnya. Tak terlalu sulit karena liang sempit itu sudah dilumasi.

Kepala penisnya langsung melesak ke dalam diiringi jerit dokter Marul yang makin keras. Jeritan dokter Marul makin parau ketika akhirnya penis lelaki itu berhasil masuk sampai ke pangkalnya.

Selebihnya adalah penderitaan hebat perempuan itu lantaran kocokan cepat di anusnya. Bahkan, berkali-kali lelaki itu memindah-mindahkan penisnya dari anus ke vagina dan sebaliknya. Hingga akhirnya, lelaki itu seperti kesetanan mengaduk vagina dokter Marul.

"Grrrrhhhhhh....." lelaki itu menggeram keras dan tiba-tiba saja telah mengangkangi wajah dokter Marul lalu memaksanya mengulum penisnya yang berlendir. Dokter Marul membelalakkan matanya saat merasakan penis lelaki itu berdenyut-denyut di dalam mulutnya. Lalu, beberapa detik kemudian, semburan deras cairan kental berbau khas mengenai dinding kerongkongannya. Semprotan sperma lelaki itu seolah tak mau berhenti. Padahal, dokter Marul merasakan rongga mulutnya telah dipenuhi cairan yang membuatnya ingin muntah. Lelaki itu tak juga melepaskan penisnya dari mulut dokter Marul.

"Ayo ditelan, bu dokter. Itu mengandung protein tinggi lho !" kata para pengeroyoknya. Ada yang kemudian mencengkeram kedua payudaranya sambil memaksanya menelan sperma temannya. Terpaksa, dokter Marul melakukannya...

Dokter Qomarul terisak-isak. Baru kali ini ia mendapatkan pelecehan sehebat itu. Diperkosa, disodomi lalu dipaksa menelan sperma pemerkosanya. 25 menit pertama begitu menyiksa. Tetapi, ia masih dalam kekuasaan 5 lelaki ini.
"Waah, brur, kalau lu buang di mulutnya, gimana dia bisa hamil ?" kata seorang lelaki melihat rekannya menumpahkan sperma di mulut Marul.

"Cuek ah, gue seneng liat bibirnya. Lu aja yang buntingin dia," sahut si pengoral. Lalu, yang terjadi kemudian adalah jerit-jerit kesakitan dan kengerian Qomarul lantaran keempat lelaki lainnya bergiliran menyetubuhinya. Tiga di antaranya menumpahkan sperma di dalam vaginanya. Seorang di dalam anusnya. Tetapi, keempatnya memaksanya membersihkan penis berlendir mereka dengan mulutnya.

Dokter Qomarul betul-betul berantakan. Ia tergolek tak berdaya di sebelah Isnu. Pangkal pahanya tampak berlepotan sperma. Begitu pula kedua payudaranya. Sperma membasahi pula wajah sendunya. Ada yang tampak mengalir di celah bibirnya. Tetapi itu belum berakhir. Titiek, perempuan berjilbab yang tadi menjemputnya, digandeng mendekatinya. Lalu, Titiek mengangkangi wajahnya. Samar-samar Marul melihat vagina Titiek juga belepotan sperma. Sebagian malah terlihat mengalir di kedua sisi bagian dalam pahanya. Seorang lelaki menjepit kedua puting Marul hingga dokter muda ini merintih-rintih.

"Bersihkan memeknya pakai lidahmu. Telan abis cairan kaya protein ini !" perintahnya.
Marul tak punya pilihan lain. Dijilatinya vagina dan paha Titiek sampai bersih. Bahkan, Titiek menguakkan bibir vaginanya lebar-lebar hingga lidah Marul pun menjelajah ke sana.

------

Titiek adalah seorang ibu rumah tangga beranak 1. Usianya baru 29 tahun. Tubuhnya montok dengan kulit kuning langsat. Bagaimana ia bisa bergabung dengan geng pemerkosa ini ?

Awalnya 6 bulan lalu. Titiek hanya sendirian di rumah kontrakannya. Anaknya sedang sekolah di TK. Lalu, dua orang lelaki mengetuk pintu rumahnya.
"Maaf Bu, kami dari Pertamina," kata seorang dari mereka sambil memperlihatkan kartu identitas berwarna biru.

"Ada apa ya ?" kata Titiek sambil membenahi jilbab putihnya yang agak melorot sehingga beberapa helai rambutnya terlihat.

"Kami sedang survei tabung gas LPG, Bu. Sebab, ada laporan tabung gas di wilayah ini banyak yang bocor," lanjut lelaki itu. Titiek terlihat ragu.

"Sebentar saja, Bu. Hanya melihat bagian segel tabung," lanjut lelaki itu.

"Sebentar saja ya ?" kata Titiek sambil akhirnya membuka pintu.

Dua lelaki itu masuk. Titiek menunjukkan tempatnya menyimpan tabung gas di bagian belakang rumah. Seorang di antara lelaki itu mengeluarkan sebilah obeng.

"Kok sepi, Bu ? Bapak kerja ya ?"

"Iya. Sore baru pulang. Anak saya sekolah. 1 jam lagi saya jemput," sahut Titiek.

"Nggak apa-apa. 1 jam cukup," kata si pemegang obeng. Titiek tak begitu paham maksud kata-katanya. Yang jelas, tiba-tiba kedua pergelangan tangannya diringkus dan ditelikung ke belakang. Titiek hampir menjerit saat mulutnya dibekap.

"Kamu teriak, obeng ini menembus tubuhmu," ancam lelaki di depannya sambil mengacungkan obeng ke lehernya. "Mengerti ?!" bentak lelaki itu. Titiek mengangguk-angguk ketakutan.

"Kalian, mau apa ?" katanya gemetar saat tangan yang membekap mulutnya dilepas.

"Jangan takut. Kami tak akan menyakitimu. Kamu cuma harus bekerjasama. Ngerti ?" Titiek menggeliat-geliat saat ujung obeng itu disodok-sodokkan ke kedua gundukan payudaranya yang tertutup jilbab.

"I...i...iya, tapi jangan...perkosa saya..." kata perempuan asal Jawa Timur ini ketakutan, sebab ujung obeng kini menekan selangkangannya dan terasa agak sakit.

"Tenang saja. Kalau kamu mau kerjasama, kamu nggak akan diperkosa," sahut si pemegang obeng.

"Maaf ya, tadi kami bohong. Kami bukannya mau survei tabung gas. Tapi survei tetek dan memek perempuan berjilbab. Nah, sekarang buka pakaianmu. Jilbabmu nggak usah dibuka. Kan yang disurvei perempuan berjilbab," lanjutnya.

Titiek terkejut dan spontan menyilangkan kedua tangan ke depan dadanya.
"Emoh, aku nggak mau," katanya. Si pemegang obeng mendekat dan langsung mencengkeram pangkal pahanya.

"Kalau disuruh telanjang saja nggak mau, terpaksa kami memperkosamu !" ancamnya.
Titiek ketakutan. Ia tak punya pilihan lain. Dengan tangan gemetar, ia melepas blusnya. Kedua lelaki itu menonton sambil duduk di kursi di hadapannya. Seorang di antara mereka mengeluarkan sebuah handycam.

"Lho, jangan direkam dong..." katanya memelas.
"Ya, namanya survei harus ada bukti dong," timpal operator handycam. Si pemegang obeng menyuruhnya melanjutkan melepas sisa pakaiannya. Lalu, rok panjangnya pun lepas. Kedua lelaki itu menyuruhnya menyampirkan jilbab putihnya ke pundak. Kini Titiek tampak menggairahkan dengan hanya jilbab, bra dan celana dalamnya. Wajahnya yang putih tampak merah padam saat ia mulai melepaskan kancing pengait bra-nya. Kamera meng-close up kedua payudaranya yang montok dengan puting kehitaman yang mengacung. Titiek makin gemetar saat ia menarik turun celana dalamnya. Akhirnya, ibu muda ini pun tampil hanya dengan jilbabnya. Vaginanya tampak tembam dengan rambut yang agak lebat tetapi seperti tersisir rapi. Kedua lelaki itu kemudian mendekat. Titiek seperti kesetrum waktu kedua payudaranya disentuh. Diremas-remas dan ditarik-tarik. Putingnya dipilin-pilin dan sesekali ditarik, sementara kamera merekam semuanya. Tak urung ia protes saat seorang di antara mereka mengulum kedua putingnya. Tetapi percuma saja ia protes. Lelaki itu terus asyik mengulum putingnya.

Keduanya kini berlutut di hadapan Titiek. Kakinya direnggangkan. Lensa kamera pun difokuskan ke selangkangannya. Titiek dipaksa menguakkan bibir kelaminnya. Kamera pun merekam gambar bagian dalam vagina Titiek yang kemerahan dan basah. Titiek kaget bukan kepalang ketika melihat 3 lelaki lain sudah ada di dalam. Spontan ia menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya.

"Nggak apa-apa, mereka juga petugas survei," kata si operator kamera. Titiek masih khawatir. Apalagi ia melihat ketiga lelaki itu kini membuka celana masing-masing. Mereka pun mengocok penis masing-masing.

"Tapi kok pakai buka celana segala," protes Titiek. Namun, lagi-lagi, protesnya tak ditanggapi.

"Cepat brur, gue nggak tahan lihat memeknya," kata seorang di antara mereka. Ketiganya kini ikut merubung Titiek. Tangan-tangan mereka langsung meraba payudara dan vagina Titiek.
"Emoh....emoh... tadi katanya cuma telanjang..." protes Titiek.

"Wah. sorry ya, kayaknya teman-teman nggak tahan nih," kata si operator. "Begini saja. Bagaimana kalau kamu layani mereka baik-baik. Jadi, tidak diperkosa, begitu ?" lanjutya.

"Emoh...emoh...aku nggak mau!" pekik Titiek. Ia menggeliat karena merasa ada jari yang masuk ke liang vaginanya.

"Oke...oke... Begini saja. Kamu kami beri kesempatan agar tidak diperkosa. Kasihan kontol mereka udah pada ngaceng begitu. Kamu emut kontol kami semua. Kalau sampai 5 menit tidak orgasme, terpaksa dilanjutkan dengan memekmu ini. Kalau kamu nggak mau, ya terpaksa kami perkosa kamu. Jadi, berusahalah membuat kami orgasme di mulutmu, ya ?" lanjut si operator. Kali ini sambil memaksa Titiek berlutut.

Titiek tak bisa protes lagi. Kini ia dikelilingi lima lelaki yang menyodorkan penis-penis mereka.
"Ayo mulai !" perintah si operator handycam. Titiek serba salah.

Kalau tak dilakukan, berarti 5 lelaki itu segera memperkosanya. Ia memang pernah mengoral suaminya, meski tak sampai orgasme di mulut. Tetapi terhadap lelaki lain ? Telanjang di hadapan lelaki lain saja tak pernah dibayangkannya !

Tetapi, akhirnya ia lakukan juga. Titiek berusaha sekuat tenaga agar lelaki pertama segera orgasme sebelum 5 menit. Ia berhasil ! Pada menit keempat setengah, lelaki itu orgasme, menumpahkan sperma ke mulutnya. Untuk pertama kali dalam hidup, ia mengetahui rasanya sperma !

Titiek senang, tetapi susah. Senang, karena ia berhasil membuat orgasme lelaki pertama. Susah, karena kini mulutnya penuh sperma. Titiek mual. Itu sebabnya ia tak bisa konsentrasi pada lelaki kedua, ketiga, keempat dan kelima. Lewat lima menit, tak seorang pun dari mereka yang orgasme.

"Aaaakkhhhh..... jangaaaaannn.... mmmfff.....mmppphhh....!"
Titiek menjerit ketika kedua tangan dan kakinya dipegangi dan kini ia terlentang dengan kaki mengangkang. Jeritnya terhenti karena mulutnya kembali disumpal penis yang besar. Akhirnya, keempat lelaki itu memperkosanya bergiliran. Ia bahkan juga disodomi. Dua lelaki menumpahkan sperma di rahimnya. Dua yang lain, masing-masing di anus dan mulutnya. Titiek tergolek tak berdaya. Terisak-isak menyesali nasibnya. Saat itulah lelaki yang tadi hanya bertahan empat menit memaksanya menungging. Tak ada gunanya lagi melawan. Tak ada bedanya diperkosa 5 atau 4 orang. Sejak itulah, kelima lelaki itu menghantui hidupnya. Berbekal foto-foto telanjangnya, mereka leluasa mempermainkannya. Sejak itu, Titiek tak pernah kesepian. Saat suaminya bekerja, ada saja di antara mereka yang datang untuk menidurinya.

Sesekali, Titiek diajak keluar. Titiek tak kuasa menolak. Bahkan, tak hanya lima lelaki itu yang sudah menikmati tubuh montoknya. Titiek sadar betul bahwa ia kini jadi budak seks mereka. Cukup sering ia dipaksa melayani lelaki lain yang berani membayar mahal untuk tidur dengan ibu rumah tangga cantik berjilbab rapi.

Sampai suatu hari, ia diminta, tepatnya diperintah untuk menjalankan skenario perkosaan atas dokter Marul. Skenario itu berhasil berjalan dengan mulus. Kini dokter Marul pun jadi budak seks kelompok maniak ini, bersama Titiek dan Isnu.

Nasib Isnu tak beda dengan Titiek. Tetapi komplotan ini tak sengaja menemukan Isnu. Ketika itu, mereka dalam perjalanan pulang sehabis mengantarkan Titiek ke seorang pemesan di Pantai Parangtritis. Mobil Kijang yang mereka tumpangi sedang berhenti di sebuah traffic light. Saat itulah Isnu melintas dari arah persimpangan yang lain dengan sepedanya.

"Eh lihat-lihat ! Gila, cakep banget tuh cewek !" teriak sopir yang tampaknya pimpinan komplotan ini. Kontan keempat lelaki lainnya melotot. Isnu memang cantik. Ada lesung pipit di kedua pipinya. Kulitnya putih mulus. Kira-kira, Luthfiah Sungkar waktu masih gadis, begitulah wajah Isnu.

Meski berjubah lebar dan berjilbab panjang, sekilas bisa terlihat tubuh di baliknya sungguh montok. Dari celah jilbab di bawah pangkal lengannya juga terlihat tonjolan dadanya yang lumayan besar.

"Sikat nggak ?" tanya sopir.

"Gila kalau nggak ngaceng lihat cewek itu !" komentar temannya. Sopir pun membelokkan Kijang ke arah Isnu.

Mobil berjalan pelan di belakang Isnu yang terus menggenjot sepedanya. Kelima lelaki itu menikmati pemandangan bokong Isnu yang menjepit jok sepedanya. Tentu saja di kepala mereka terbayang kalau yang terjepit bokong itu adalah penis mereka !

Skenario pun disusun. Kijang itu segera menyalip Isnu. Gadis berusia 24 tahun itu sempat melirik lelaki-lelaki di dalam mobil Kijang yang menyalipnya. Tetapi, ia segera menundukkan pandangannya. Pada dasarnya, Isnu memang gadis pemalu. Isnu tak terlalu ambil pusing. Toh, saat itu ia memang sedang sakit kepala. Capek seharian mengajar anak-anak TK yang banyak ulahnya. Kijang itu melaju jauh ke depan, sampai tak terlihat oleh Isnu. Kelima lelaki itu tahu, jauh di depan sana ada lokasi yang agak sepi.

Dua lelaki diturunkan. Lalu kijang itu berbalik arah kembali ke Isnu. Isnu tak tahu mobil Kijang yang tadi menyalipnya, kini sudah berada di belakangnya lagi. Ia terus mengayuh sepedanya. Sampai di tempat yang agak sepi tadi, ia melihat dua lelaki di tepi jalan, melambaikan tangan, memintanya berhenti.

"Maaf mbak, numpang tanya," sapa lelaki yang terlihat sopan, ketika Isnu berhenti.
"Ya ?"
"Ini benar jalan ke Imogiri ?" lanjut lelaki itu.
"Betul, Pak. Lurus ke sana,"
"Ada angkutan umum ke sana, nggak ya ?"
"Wah, nggak ada Pak,"
"Terus, bagaimana kalau saya mau ke sana ?"
"Bagaimana ya ?" Isnu menggumam sendiri.
Tepat saat itu, mobil kijang tadi berhenti di sisi mereka. Seorang di antara penumpangnya turun.
"Numpang tanya, Mbak, Mas, ke Imogiri lewat mana ya ?" tanya orang itu.
"Lurus saja, Pak," sahut Isnu. Heran juga dia. Hari ini kok berturut-turut ada orang tanya jalan ke Imogiri.
"Eh Pak, anda mau ke Imogiri ya ? Bisa numpang ?" sela lelaki yang tadi menyetop Isnu.
"Oh ya, dua bapak ini ikut saja. Nggak ada angkutan umum, Pak," Isnu tampak senang karena persoalan ini bakal selesai.
"Mbak sekalian ikut deh, buat nunjukin jalan," kali ini lelaki kedua turun dari mobil dan langsung nimbrung bicara.
"Wah, saya naik sepeda, Pak," kata Isnu.
"Sepedanya ditinggal saja, Mbak. Kapan-kapan diambil lagi," sahut lelaki itu sambil mendekat.
Sampai di sini, Isnu mulai curiga. Akhirnya ia sadar, orang-orang ini yang tadi dilihatnya memandanginya dari mobil kijang yang menyalipnya. Curiga berubah jadi khawatir melihat situasi yang sepi.
"Iya Mbak, ikut sekalian saja. Daripada capek genjot sepeda. Biar nanti kami yang nggenjot Mbak, he he he..." kata lelaki yang tadi menunggu di tepi jalan.
"Eh, eh, apa ini... eh...." Isnu berusaha menaiki sepedanya kembali.
Tetapi terlambat. Keempat lelaki itu telah mengurungnya.
"Tolong...toloooonngg....mmmffff....mmmppfff..." Isnu menjerit ketika seorang yang bertubuh besar memeluknya erat dari belakang dan menyeretnya ke mobil. Sepedanya terguling ke selokan. Meski sepi,
mulut Isnu dibekap juga. Isnu terus meronta. Tetapi kini kedua pergelangan kakinya dipegang.
Dengan mudah tubuhnya diangkat masuk ke mobil. Lima lelaki itu tertawa-tawa. Isnu dibaringkan di atas paha tiga lelaki yang duduk di jok tengah. Mereka membiarkannya berteriak-teriak. Toh tak ada yang akan mendengar. Suara Isnu nyaris habis. Yang terdengar kini tinggal isak tangisnya.
Kedua tangannya pun telah terikat ke belakang punggungnya.
"Jangan...tolong... hik... jangan... aahnngghhh.... ampuunnn....huhuhu...huuu..." Isnu merintih, mengerang dan terus menangis.
Jilbab putih lebarnya tersingkap. Ketiga lelaki itu kini bisa melihat gundukan besar di dadanya yang masih tertutup jubah biru tua. Isnu menjerit histeris ketika dua telapak tangan kasar meremasnya.
"Uhhh... kenyal dan padat. Aku bisa bayangkan hangatnya kontolku dijepit tetek cewek ini. Siapa namamu sayang ?" kata lelaki yang meremas payudaranya sambil memperkeras remasan.
"Aaakhhh.... aduhhhh...akkhhh... Is...Isnuuuu....!" Isnu menjerit.
"Kamu tadi darimana ?" lelaki itu bisa menemukan puting Isnu dari luar bajunya. Dipilinnya kuat-kuat. Isnu pun menjerit lagi.
"Aakkhh.... saya... akkhhh... dari mengajar....adududuhhhhh...." pekik kesakitan Isnu.
"Ooo, jadi kamu bu guru ya ? Guru apa ? TK ?" pilinan di putingnya diperkeras lagi.
"Iya....iyaa....aaawwwwhhh...."
Lelaki yang duduk di tengah menarik turun ritsleting di bagian muka jubah Isnu. Panjang sampai ke perutnya yang ramping. Di baliknya, ada kaus dalam putih. Isnu terisak-isak. Kaus dalamnya ditarik ke atas
meliwati dadanya. Di baliknya ada bra putih yang tampak sesak.
"Aiiiiihhhh...." Isnu memekik. Bra itu pun ditarik ke atas dengan kasar. Tiga lelaki itu berebut komentar melihat payudara telanjang Isnu yang montok. Luar biasa putih dan mulus. Saking putihnya sampai urat-uratnya yang biru kehijauan terlihat membayang. Putingnya amat kontras. Agak merah jambu warnanya. Mungil, tetapi tegak dengan areola yang sempit. Kedua putingnya pun langsung jadi sasaran mulut lelaki yang memangku kepalanya. Isnu menjerit sejadinya. Putingnya kini makin mengacung. Wajahnya merah padam karena malu,
takut dan marah yang bercampur jadi satu.
"Kamu sudah kawin, sayang ?" kali ini lelaki yang memangku kakinya yang bertanya. Jemarinya mengelus-elus pinggiran gundukan di pangkal paha Isnu.
"Ooohhh...aakkhhh....aduhhhh.... belum....beluuumm....!" Isnu menjerit lagi. Sebabnya, gundukan kecil itu dicubit keras-keras. Isnu meronta waktu bagian bawah jubah biru tuanya ditarik sampai ke pinggang. Ada rok dalam putih berenda di baliknya. Rok dalam ini pun dengan mudah ditarik lepas. Kaki kirinya kini dijepit di belakang punggung lelaki itu. Sementara kaki kanannya dipangku. Posisi itu membuat kakinya agak terbuka.
Kedua payudaranya masih diremas-remas. Putingnya terus dipilin-pilin dan ditarik-tarik. Kini kedua pahanya yang mulus pun jadi sasaran raba. Malah kini vaginanya yang tertutup celana dalam putih pun mulai
diremas-remas.
"Belum kawin ya ? Tapi sudah pernah ada kontol mampir ke sini belum ?" tanya seorang lelaki sambil menarik bagian muka celana dalam Isnu hingga terselip di antara dua bibir vaginanya. Bagian daging yang menyembul itu tampak putih mulus. Hanya sedikit rambut halus tumbuh di situ.
"Sudah ada kontol masuk memekmu ini belum ?!" bentak lelaki itu sambil menarik sehelai rambut kelamin Isnu. Kulit kelaminnya terangkat sampai akhirnya rambut itu tercabut.
"Aaakhhhh.... awwwhhhhh... belum.... belum....oohhhh...ampuuunn...huhuuuuu," Isnu menangis makin keras.
"Berarti kamu masih perawan ya ?" lelaki itu melanjutkan sambil mencubit kedua bibir kelamin Isnu.
"I...iyaa....aduh, jangan... sakiiiit....aiiiihhhh..." Isnu menjerit lagi ketika celana dalamnya dicabik-cabik. Vaginanya kini telanjang. Gundukan mulus dengan belahan yang rapat di tengahnya.
"Coba kita cek !" kata lelaki itu sambil mengangkat kaki kanan Isnu. Akibatnya kini pinggul Isnu mendongak. Isnu menjerit-jerit terus. Tiga lelaki itu mendekatkan wajah mereka ke pangkal pahanya. Isnu bisa merasakan bibir vaginanya dikuakkan jari-jari kasar. Tiga lelaki itu melihat liang vagina Isnu terbuka lebar. Bagian dalamnya pink. Agak ke dalam terlihat sebentuk selaput yang menutupi liang itu. Mereka bersorak mengetahui Isnu masih perawan. Lalu, ketiganya berebut menciumi vagina gadis itu. Menjilati dan sesekali menggigit-
gigitnya. Isnu menjerit-jerit histeris.
"Hoi, sudah sampai ! Sudah, berhenti dulu. Kita lanjutkan di dalam,"

Isnu masih menangis waktu didorong turun. Tampaknya ini rumah yang besar. Garasinya saja begitu luas dan memuat tak kurang 5 mobil. Tetapi Isnu tak terlalu memperhatikan itu. Yang ia khawatirkan adalah keselamatannya sendiri. Dan bajunya yang terbuka di sana-sini. Bagian muka jubahnya terbuka lebar. Branya terangkat ke atas dadanya. Payudaranya yang lumayan besar pun berayun-ayun. Lelaki yang duduk di jok depan pun menyempatkan meremas dada dan menarik putingnya.
Isnu digiring ke sebuah ruang yang luas dan terang benderang. Komplotan pemerkosa gadis berjilbab ini pun mengulang strategi yang biasa mereka jalankan. Pertama, melepas ikatan tangan gadis itu. Mereka sungguh menikmati saat gadis-gadis berjilbab yang pemalu dengan tergesa-gesa menutup kembali bagian tubuh mereka yang terbuka.
Lalu, mereka mempermainkan perasaannya dengan memberi dua pilihan. Menurut atau diperkosa beramai-ramai. Menurut artinya, terpaksa menerima pelecehan hebat. Biasanya itu berupa aksi menelanjangi diri sendiri di depan mereka dan direkam kamera, lalu dilanjutkan dengan mengulum penis mereka semua hingga mereka semua orgasme di dalam mulutnya.
Para gadis berjilbab korban mereka biasanya pilih menurut. Lalu, yang tak pernah diperhitungkan oleh para gadis ini. Selalu saja, sekalipun mereka sudah menurut, mereka tetap diperkosa. Dan mereka tak bisa berbuat apapun. Apalagi, rekaman aksi sukarela mereka ada dalam kekuasaan para pemerkosa.
Gadis berusia 22 tahun ini pun mengalami hal tersebut. Ia masih terengah-engah dengan mulut dan wajah belepotan sperma setelah dengan terpaksa membuka seluruh pakaian kecuali jilbabnya, lalu mengoral mereka semua. Di luar dugaannya, kedua tangannya lalu dipegangi dan ia dibaringkan di lantai yang dingin.
Isnu menjerit-jerit histeris. Tetapi sia-sia. Lelaki yang penisnya paling besar jadi orang yang pertama menjebol kegadisannya. Lalu, 4 lainnya segera menyusul. Isnu pingsan saat anusnya untuk pertama kali disodomi. Tetapi itu tak membuat mereka semua berhenti. Bahkan, saat ia siuman, tiga lubang di tubuhnya dimasuki tiga penis sekaligus.
Hampir 5 jam Isnu diperkosa. Tiap orang melakukannya 2-3 kali. Menjelang petang, Isnu dipaksa mandi bareng. Lalu, ia kembali berjilbab dan berjubah. Tetapi, kali ini tanpa pakaian dalam. Ia kemudian dikembalikan ke tempat semula ia diculik. Tetapi, sepanjang jalan ke sana, masih ada yang menyempatkan memaksanya mengulum penisnya hingga sperma kembali harus ditelannya.
Sepedanya masih di sana. Isnu dengan menahan pedih, mengayuh sepedanya pulang. Hari itu, adalah awal penderitaan panjangnya.

Tiga hari Isnu Katon tak mengajar. Teman-temannya hanya tahu ia sakit. Tetapi, gadis berusia 23 tahun ini memang betul-betul sakit. Terutama pada organ-organ seksualnya. Meski begitu, Isnu tak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya kepada siapapun. Ia tak sanggup membayangkan foto-foto telanjang dan filmnya saat beradegan striptease dan mengulum penis lima lelaki, tersebar luas. Akhirnya, Isnu menyerah pada keadaan. Ia berharap para pemerkosanya tak akan datang lagi.

Tetapi ia salah. Buktinya, seminggu setelah perkosaan, Isnu sedang mengikuti penuturan tentang pijat bayi dari seorang dokter.

"Bu Isnu, ada yang cari. Katanya saudaranya. Dia nunggu di ruang guru," kata Astuti, staf Tata Usaha TK. Isnu langsung ke ruang guru. Ruangan itu kosong karena semua guru bersama wali murid mengikuti acara soal pijat bayi tadi.

Isnu nyaris menjerit melihat dua lelaki yang pernah memperkosanya di ruangan itu.
"Ma... mau apa kalian ?" katanya dengan bibir gemetar.
"Cuma kangen, kok," kata seorang di antara mereka sambil mendekat. "Kangen memekmu ini," lanjutnya sambil meremas pangkal paha Isnu. Isnu nyaris menjerit.
"Silakan teriak, kalau kamu ingin teman-temanmu dan wali murid tahu," katanya sambil menutup pintu ruang guru.
"Sebentar saja, kok Bu Isnu," katanya sambil memutar tubuh Isnu hingga kini menghadap meja. Isnu menggigit bibirnya ketika bagian bawah jubah biru tuanya diangkat, lalu rok dalam dan celana dalamnya dipelorotkan turun.
"Nggghhhh...." Isnu berusaha tak menjerit kendati masuknya penis lelaki itu ke vaginanya masih terasa menyakitkan.
Kedua tangan lelaki itu terus meremas-remas kedua payudaranya hingga terasa menyakitkan. Lelaki itu betul. Ia tak lama kemudian orgasme. Tetapi Isnu tak merasakan semburan sperma. Ternyata lelaki itu menggunakan kondom. Kondom itu kini disodorkan ke depan wajahnya.
"Minum ini, Bu Isnu. Kalau tidak, temanku nggak mau pakai kondom lho. Bisa-bisa ada air mani yang meleleh waktu ibu ikut sarasehan pijat bayi itu," katanya setengah memaksa.
Isnu pun dengan menahan jijik menelan juga sperma dalam kondom itu. Tepat pada saat itu, lelaki satunya menyetubuhinya dari belakang.
Diam-diam, lelaki yang sudah menyetubuhinya keluar. Lalu, tak lama kemudian, lelaki lain masuk. Begitu terus. Satu selesai, menyuruhnya menelan sperma dalam kondom, diganti lelaki lain menyetubuhinya. Satu lagi masuk, hingga akhirnya lima lelaki pemerkosa Isnu pun tuntas.
Lelaki kelima, sebelum pulang menyempatkan membuka bagian depan jubah Isnu, lalu mengulum kedua putingya.
"Ngomong-omong, siapa perempuan yang lagi ceramah pijat bayi itu ?" katanya. Jari tengahnya menekan klitoris Isnu dengan gerak berputar.
"Nghhh... itu... Bu dokter Marul.... kenapa ?"
"Lain kali, kami ingin ajak dia ngentot bareng kamu," katanya.
Isnu kaget. Tetapi tak bisa apa-apa. Apalagi, lelaki itu kemudian menyuruhnya menelan spermanya yang tertampung dalam kondom.
Isnu keluar dari ruang guru dengan wajah pucat. Astuti memandangnya dengan heran.
"Kenapa, Bu Isnu ? Kalau masih sakit pulang saja," katanya.
"Iya, Bu. Aku pulang saja," kata Isnu sambil melangkah gontai. Diliriknya Dokter Marul yang tengah ceramah. Yang dilirik tersenyum. Tak tahu apa yang bakal terjadi beberapa hari lagi.

Ini hari Jumat. Sembilan hari lagi Isnu akan menikah. Ia bingung bukan main. Apa yang harus dikatakannya soal keperawanannya kepada suaminya nanti ? Saking bingungnya, ia tak begitu konsentrasi mengajar hari ini.
"Bu ada yang cari. Saudara ibu yang kemarin. Dia nunggu di ruang guru," tiba-tiba Bu Astuti membisikinya.
"Eh uh... suruh ketemu di sini aja, Bu," sahutnya salah tingkah.
"Lho, dia sudah di ruang guru, Bu. Sudah sana temuin. Kayaknya penting banget. Anak-anak biar aku yang urus," sahut Astuti.
Dengan cemas, Isnu masuk ke ruang guru. Semua guru sedang di ruang kelas masing-masing. Yang dikhawatirkannya jadi kenyataan. Di dalam, sudah ada lima 'tuan'-nya. Seorang di antaranya langsung menyambut dengan mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Entah tangan siapa yang kini bermain-main di dada, pangkal paha dan pantatnya.
Lalu, kejadian seminggu lalu terulang. Satu persatu menyetubuhinya. Dan, 5 kondom sperma pun terpaksa ditelannya. Celana dalam dan bra-nya, kali ini bahkan diminta mereka.
"Wah, bu guru mau nikah kok nggak bilang-bilang ? Kami kan harus ngasih kado juga," kata seorang lelaki ketika semua sudah selesai. Isnu duduk di kursi. Dari belakang, lelaki itu meremas-remas kedua payudaranya dari luar jilbab putihnya yang panjang sepinggul.
"Saya mohon, jangan ganggu saya lagi," kata Isnu lirih. Kedua putingnya terasa dipilin-pilin.
"Iya deh, kalau sudah nikah nggak kita ganggu lagi. Nah ini, kami mau mengundangmu untuk terakhir kali. Sekalian pesta menjelang pernikahanmu," lanjut lelaki itu. Tahu-tahu tangannya sudah menyusup ke balik jubah Isnu, terus turun sampai ke pangkal pahanya.
"Ma... maksud...nya ?" Isnu cemas. Ia menggeliat merasakan jari lelaki itu menyusup ke celah vaginanya.

"Hari Minggu besok, kami mau pesta dengan bu dokter Marul !" kata-kata lelaki itu begitu mengejutkannya.

"Bu...bu Marul ? Jangan... jangan lakukan itu padanya !" kata Isnu nyaris memekik.
"Memangnya kamu bisa mencegahnya ? Kamu malah bakal ikut pesta sama dia. Nah, kamu juga bisa lihat dia telanjang besok. Kamu bisa lihat memek dia kemasukan lima kontol, besok Minggu," desis lelaki itu sambil meremas agak keras vagina Isnu yang tembam.
"Ihhh... kalian... jahat !" Isnu mengerang.

"Baru tahu ya ? Nah, sekarang kamu pamit sama teman-temanmu sekarang. Bilang, mau urusan pernikahan gitu. Soal orangtuamu, jangan khawatir, kami sudah pamitkan dengan alasan kamu ada urusan 2 hari di sekolah. Cepat sana pamit !" lanjut lelaki itu sambil menepuk pantat Isnu yang bahenol.

"Ha ha ha... kamu memang gadis penurut," kata seorang pemerkosanya saat Isnu naik ke mobil Kijang mereka.

Segera saja Isnu jadi bulan-bulanan. Seluruh pakaiannya, kecuali jilbab segera lepas. Isnu terus memekik, menjerit, mengerang dan merintih. Sekujur tubuhnya jadi sasaran jamahan. Malah, ia sempat menjerit panjang lantaran pengalaman baru. Yakni ketika kedua puting susu dan klitorisnya dijepit dengan penjepit jemuran !

Isnu ternyata diajak ke sebuah hotel di utara kota. Hotel ini tampaknya biasa digunakan pasangan-pasangan yang ingin rahasianya terjaga. Salah satu tandanya, di tiap kamar ada garasi. Begitu mobil masuk garasi, rolling door bisa segera ditutup dan mereka langsung masuk ke kamar. Tak lama kemudian room boy datang untuk menagih pembayaran.
Room boy heran juga melihat seorang perempuan berjubah dan berjilbab sepinggul duduk di tepi ranjang dan lima lelaki lain ada di ruangan itu. Lelaki pimpinan kelompok tampaknya sadar akan keheranan room boy.
"Mas, aku minta tolong bisa nggak ?" bisiknya.
"Apa, Pak ?"
"Tolong jangan bilang siapa-siapa kalau kami bawa cewek berjilbab. Jangan khawatir, sebagai imbalannya, kamu boleh ngentot sama dia," lanjutnya. Pemuda itu melotot heran.
"Ah, yang bener ?" katanya sambil memandangi Isnu. Yang dipandangi menunduk.
"Bener. Sekarang aja, cepat," sahutnya. "Nu, Isnu... cowok ini mau lihat memekmu. Coba berdiri, angkat jubahmu," lanjutnya kepada Isnu.

Dengan gemetar, Isnu mengangkat jubahnya sampai ke pinggul. Room boy mendelik melihat vagina Isnu."Sudah sana, cepat. Dia sudah siap," katanya kepada room boy.

Tanpa disuruh dua kali, pemuda itu langsung menyerbu Isnu. Didorongnya Isnu hingga terlentang di ranjang dengan jubah tersingkap. Gadis itu memekik-mekik ketika vaginanya dijilati room boy. Kelima lelaki lain menonton hiburan mengasyikkan itu. Bahkan, diam-diam ada yang merekamnya dengan handycam.

Isnu seperti boneka. Dibolak-balik pemuda itu. Disetubuhi dari depan, belakang dengan berbagai gaya. Jubahnya sudah melayang ke lantai. Beberapa menit, sempat juga ia mengoral penis room boy.

Pemuda itu tampaknya hampir orgasme. Ia menggenjot vagina Isnu dengan cepat.
"Buang ke mulutnya, Mas !" kata pimpinan kelompok. Betul saja, pemuda itu mengakhirnya dengan menumpahkan sperma ke mulut Isnu. Gadis itu terisak-isak dan menekuk tubuhnya di ranjang.

Selepas melayani room boy, mereka menggiring Isnu ke kamar mandi. Kamar mandi yang tak seberapa luas itu jadi makin sempit karena dipadati 5 lelaki bugil dan seorang gadis yang semula berjilbab, tetapi kini juga telanjang bulat.

Tentu saja, acara mandi itu jadi tak lazimnya orang mandi. Sekujur tubuh Isnu memang disabuni oleh kelima maniak itu. Tetapi begitu sekujur tubuh bugil Isnu berlapis sabun, mereka menyempatkan menyetubuhinya lagi.

Isnu betul-betul lelah. Ia agak lega ketika acara mandi itu selesai. Ia kembali disuruh berjilbab. Tapi alangkah kecewanya ia lantaran tak diperkenankan memakai selain itu. Apalagi, ujung jilbabnya kemudian diikat ke belakang punggungnya. Jadilah ia kini berjilbab, tetapi selebihnya telanjang bulat.

Mereka kini membaringkannya di ranjang. Tetapi, tak diduganya, kedua tangannya kini diikat ke sudut ranjang. Begitu pula kedua kakinya. Kini Isnu bagaikan huruf X. Posisi itu sungguh menyiksanya. Tak pernah terbayangkan olehnya bakal mempertontonkan auratnya.

"Sudah, kamu sekarang tidur aja. Nanti malam kita pesta," kata pimpinan komplotan itu sambil mengusap-usap celah bibir kelaminnya. Isnu memalingkan wajah dan memejamkan mata.

Kelima lelaki itu masih tetap bugil. Mereka ikut menggeletak di sekeliling Isnu. Meski tak menyetubuhinya, tetap saja mereka mempermainkan organ-organ seksualnya. Payudaranya tak pernah istirahat dari remasan. Ada juga yang menyempatkan mengulum kedua putingnya.
Isnu menggeliat ketika merasakan sesuatu yang dingin di dalam vaginanya. Ternyata, ada yang menyelipkan leher botol bir ke vaginanya hingga isinya tumpah di dalam. Lalu, lelaki itu menyeruput bir dari dalam vaginanya. Begitu terus diulang-ulang. Menyodok-nyodokkan leher botol ke vagina Isnu dan kemudian menyeruput bir dari dalamnya, sampai botol itu kosong. Tetapi, kali ini, leher botol itu dibiarkannya tetap terselip di antara bibir kelamin Isnu.
Karena terlalu lelah, Isnu betul-betul tertidur. Begitu pula kelima pemerkosanya
Dua gadis itu jatuh tersungkur ke tepi parit kebun tebu ketika sepedamotor yang mereka tumpangi tertabrak sebuah Daihatsu Espass dari belakang. Itsna Wiqoyati, gadis dengan jubah warna kopi susu dan jilbab panjang sewarna mencoba duduk beringsut. Pergelangan kakinya seperti terkilir. Sedang temannya Nurrahma yang memakai jubah dan cadar serba hitam masih tergeletak pingsan. Kakinya tertindih roda motor bebek tua yang dikendarainya.

"Aduh dik, maaf ya, nggak sengaja. Temanmu itu, nggak apa-apa?" kata seorang lelaki yang turun bersama temannya.
Dengan wajah agak merengut, mahasiswi Fakultas Adab berusia sekitar 24 tahun itu menjawab. "Saya nggak apa-apa, cuma kaki ini sakit sedikit, tapi teman saya ini... kayaknya pingsan," katanya, menunjuk temannya. Dua lelaki itu turun ke parit kering, melepaskan kaki Rahma dari himpitan motor. Yang seorang mengecek denyut nadi di pergelangan gadis bersarung tangan hitam itu. Cuma pingsan. "Wah denyut nadinya nggak keruan, harus cepat dibawa ke RS," ujarnya berbohong.


Itsna tampak khawatir. Ia mencoba berdiri dan berjalan tertatih. "Iya, tolong antar ke RS," katanya.
"Situ nggak apa-apa?" sahut lelaki di atas.

"Nggak, nggak apa-apa, yang penting teman saya," sahutnya. Dengan cemas dipandanginya temannya dibopong salah satu lelaki. Lelaki satunya menjulurkan tangan untuk menolongnya naik dari parit.
Itsna ragu, belum pernah ia bersentuhan kulit dengan lelaki sebelumnya. "Nggak apa-apa," kata lelaki itu ketika melihatnya ragu.

Akhirnya gadis itu menurut, dibiarkannya lelaki itu menggenggam tangannya yang mungil dan lembut untuk menariknya ke atas.
***
Itsna terkejut ketika melihat di dalam mobil Rahma sudah dibaringkan di atas pangkuan dua lelaki. Ternyata di dalam mobil sudah ada empat lelaki lain. "Mobilnya penuh, kita duduk di belakang," ajak lelaki di
sebelahnya ketika melihat Itsna kembali ragu.

"Motornya?" tanya Itsna.
"Nanti kita laporkan ke penduduk di sana, supaya diurus," timpal lelaki itu sambil menunjuk rumah di ujung jalan kampung itu.

Akhirnya Itsna duduk di belakang. Dua lelaki yang tadi menolong duduk di depannya. Mobil kini mulai bergerak. Baru sekitar lima menit berjalan, tape mobil disetel keras dengan musik yang memekakkan
telinga. Isna mengerutkan keningnya.

"Bisa dikecilkan musiknya? Kepala saya pusing," katanya. Anehnya lelaki di depannya justru tersenyum-senyum. "Jangan-jangan karena kakimu yang sakit itu," kata lelaki yang tersenyum.

"Eh dab, temon sing iki ayu banget," tahu-tahu salah satu lelaki yang memangku Rahma menengok ke belakang. Dua temannya langsung melongok ke depan. Betul saja, cadar Rahma telah disingkap sehigga menampakkan wajahnya yang ayu dengan mata terpejam. "Eh, lho-lho..." Itsna terkejut. Ia makin terkejut lagi ketika mendengar kalimat selanjutnya. "Susune gede, tur tempik-e kandhel...ha... ha," keenam lelaki di dalam mobil itu tertawa berbarengan. Ternyata dua lelaki yang memangku Rahma telah merabai sekujur tubuh mahasiswi yang pingsan itu. Tangan keduanya bahkan telah jauh merogoh ke dalam celana dalam dan bhnya.
"Jembut-e piye?" tanya lelaki di depan Itsna.

"Mulus, kethok-e durung suwe dicukur," Itsna bengong," Heii jangan kurangajar!" pekiknya. Kedua lelaki di depannya kini menatapnya. "Waduh lali aku nek ning kene yo ono sing iso dikurangajari," kata salah satu lelaki.

Kemarahan Itsna berubah menjadi ketakutan ketika salah satu lelaki pindah duduk ke sebelahnya. Nyalinya ciut mendadak ketika tahu-tahu telapak tangan kiri lelaki itu mendarat di payudara kirinya. Ia memekik sejadi-jadinya, apalagi kini kakinya yang sakit ditarik lelaki di depannya. Cepat sekali tangan lelaki itu masuk dan meremas pahanya. "Susu sing iki yo lumayan," "Pupune mulus!" kedua lelaki itu bersorak-sorak diiringi tawa para lelaki.

Itsna meronta sejadinya. Entah sejak kapan kedua tangannya telah terikat di belakang punggung. Ia kini duduk di lantai mobil dengan kepala bersandar selangkangan lelaki di belakangnya. Sementara lelaki
di depannya memegangi kedua pergelangan kakinya.

Dan .... "Aaahhhh....ngghhhh...jangaaannn...!!!" Itsna menjerit- jerit. Selangkangannya diinjak telapak kaki lelaki di depannya. Jari kaki lelaki itu bergerak-gerak, bahkan sekali mencubit gundukan daging di situ. Sementara lelaki di belakangnya leluasa terus meremasi payudaranya hingga terasa sakit. Jilbabnya telah tersingkap ke belakang, kancing atas jubahnya terbuka lima. Dengan kasar lelaki di belakangnya merenggut bh-nya. Itsna menjerit sejadinya.

Payudaranya yang tidak seberapa besar terlihat matang, dan itu cukup untuk membuat lelaki di depannya tertarik untuk menempatkan sebelah kakinya di payudara kirinya, mengguyer-guyer dan menjepit putingnya
dengan jempol dan telunjuk kaki. Itsna masih merintih-rintih ketika payudara satunya dicengkeram dari belakang lalu putingnya dijepit, dipilin, dipuntir kuat sambil ditarik ke atas.

Dalam keadaan sakit, kedua pahanya yang mulus diinjak lelaki di depannya hingga terpaksa mengangkang. Bagian bawah jubahnya tersingkap hingga ke pinggang. Tahu-tahu lelaki itu menunduk dan "Plak plak plak plak !!!" kedua payudaranya ditampar berganti-ganti hingga memerah. Itsna menangis... Tapi tangisnya malah membuat lelaki itu makin bernafsu. Tangannya kini mulai menyentuh kemaluannya yang tertutup celana dalam putih. Jari-jarinya lalu mendorong bagian muka secarik kain itu hingga terselip di celah di pangkal pahanya.

"He he, jembutmu lumayan juga, non!" kata lelaki itu lalu mencerabuti
secara membabi buta. Itsna menggigit bibirnya. "Aihhhh!!!" Ia kini memekik ketika celana dalamnya tiba-tiba direnggut. Tak cuma itu, kedua lelaki yang meringkusnya kini mengguntingi pakaian dan jilbabnya. Tak lama kemudian, tubuhnya betul-betul bugil, tinggal jilbab yang juga terpotong hingga sedikit di bawah dagu.
***
"Aaaahhh....ngghhhhh...auwwwhhh..." Tiba-tiba dari kursi tengah terdengar jeritan perempuan. Kedua lelaki yang sedang menggarap Itsna bangkit, melongok. Ternyata Rahma juga sudah seperti Itsna, bugil dengan jilbab dan cadar yang tinggal sedikit di bawah dagu. Kedua puting susunya terlihat dijepit dengan jepit kertas berwarna hitam. Kedua bibir kelaminnya yang bekas dicukur bahkan dijepit masing- masing dua di dua sisi. Tidak cuma itu, jepit kertas tampak juga menjepit klitorisnya. Tangan gadis bercadar itu juga terikat dibelakang punggung. Semua lelaki terbahak-bahak.

"Ha ha ha... sini aku minta jepitnya, cewek yang ini juga minta dijepit ha ha ha!" kata lelaki di belakang. Tujuh jepit kertas dengan cepat menjepit puting susu, bibir kelamin dan klitoris Itsna, diiringi jerit memilukan gadis Salatiga itu. Itsna kini dibaringkan di kursi panjang dengan paha mengangkang lebar. Salah satu lelaki dengan santainya menguakkan bibir luar kelamin gadis itu dan ... dua jepit kertas menjepit keras dua sisi labia minora yang lembut dan merah jambu. Itsna kembali menjerit dan meronta sejadinya. Sementara Rahma juga masih terdengar merintih-rintih memilukan.
***
Tak lama kemudian kedua gadis itu digelandang turun dari mobil, masuk ke sebuah rumah berhalaman sangat luas. Sebelumnya, jepit-jepit kertas di bibir kelamin keduanya diikat sedemikian rupa ke paha mulus masing-masing sehingga liang kelamin mereka terkuak lebar. Di samping itu, kedua jepit di puting susu mereka dihubungkan dengan seutas tali nilon yang tengahnya disambung dengan tali panjang. Dengan ujung tali panjang itulah keduanya diseret seperti hewan piaraan. Mau tak mau keduanya mengikuti tarikan tali yang menyakitkan puting susu mereka.

Itsna dan Rahma berjalan mengangkang karena selangkangan mereka terasa amat sakit. Keduanya terus merintih-rintih... Sementara dari belakang para lelaki mencubiti pantat mereka yang bundar. Itsna kaget dan khawatir, ujung tali kemudian disampirkan ke besi yang melintang di atas dua tiang setinggi dua setengah meter, lalu diikatkan ke pengikat kedua tangan di belakang punggung. Itsna dan Rahma menjerit dan merintih, keduanya terpaksa jinjit agar puting mereka tidak makin tertarik ke atas. Namun bergerak sedikit saja sudah membuat puting itu seolah hendak putus. Seorang lelaki mendekatinya, mengelus-elus kelaminnya yang terkuak lebar. Itsna melengos, klitorisnya diuyel-uyel.

"Anak manis, kamu mau diperkosa ramai- ramai?" "Ohhh...jangan...ampun...jangan perkosa saya, apapun akan saya lakukan," rintihnya. "Kamu juga?" lelaki itu beralih ke klitoris Rahma. Gadis itu merintih pelan sambil mengangguk. Lelaki itu lalu mengangguk kepada teman-temannya. Kedua gadis itu agak lega karena tali yang menggantung puting susu mereka dilepas. Namun jepit-jepit di tempat-tempat sensitif tetap terpasang, begitu pula ikatan tangan mereka. Kelegaan mereka ternyata tidak ada artinya. Sebab, kini belasan lelaki mengelilingi keduanya dengan celana melorot dan penis menegang.

"Kalian berdua harus jongkok berkeliling, lalu mengulum kontol-kontol ini, masing-masing sepuluh detik. Ingat, begitu kalian muntah, terpaksa kalian harus diperkosa," ancam lelaki yang jadi pemimpin. Lalu ritual penghinaan itu pun dimulai, Itsna dan Rahma menahan rasa jijik demi keselamatan kegadisan mereka. Satu persatu penis 'memperkosa' mulut mereka. Pada putaran pertama tidak ada masalah, tapi masuk putaran kedua, seorang lelaki mulai menyemprotkan spermanya, sebagian masuk ke mulut Itsna, sebagian lagi menodai pipi dan ujung hidungnya. Lalu lelaki kedua menyusul, ketiga dan seterusnya. Mulut Itsna dan Rahma mulai penuh cairan yang lengket dan berbau menjijikkan. Wajah Itsna hampir seluruhnya basah air mani yang juga menetes ke pucuk payudaranya. Sementara kedua mata Rahma telah terpejam karena sperma beberapa kali menyemprot tepat di situ. Sedang cadar hitamnya juga mulai terlihat keputihan oleh cairan lengket itu. Hingga akhirnya saat orang kedua belas memaksa Rahma menyedot habis spermanya dan menjilati batang penisnya, gadis itu tak tahan lagi. "Hoeekkhhh...hoekhhh..." ia muntah sambil terjatuh, meringkuk memegangi mulutnya. Tapi para lelaki justru tertawa-tawa.

Itsna yang masih menahan mual melihat dengan ngeri. Tak kurang enam lelaki kini memegangi temannya. Kaki dan tangannya dipegangi terentang. Payudaranya jadi rebutan remasan. "Ha ha... sekarang dia boleh diperkosa...ayo puas-puasin!" kata si pemimpin.

Rahma tak berdaya, jepit di seputar memeknya kini dilepasi dan sekejap saja penis para lelaki itu berebut menyodok memeknya. Darah keperawanannya mengalir diiringi jerit tangisnya. Itsna pucat pasi, pemerkosaan itu begitu brutal. Ia melihat, seorang lelaki menancapkan penisnya dalam-dalam ke memek Rahma dari belakang, lalu tubuh gadis itu dibaringkan di atas lelaki pemerkosanya. Tubuhnya siap diserangdari atas. Rahma menjerit keras ketika dari atas, satu lagi penis dipaksa masuk ke lubang memeknya yang sempit. Pada saat itu juga, cadarnya kembali disingkapkan dan satu lagi penis masuk ke mulutnya.

Pada saat lain, Rahma disodomi, lalu diperlakukan seperti sebelumnya. Memeknya diperkosa dari atas, begitu pula mulutnya. Jepit di puting susu Rahma yang belepotan sperma akhirnya dilepas. Daging mungil kehitaman itu terlihat gepeng, tapi karena elastisnya, sebentar saja kembali bundar. Rahma akhirnya terkulai lemas direrumputan dengan tatap mata kosong. Seluruh tubuhnya praktis ternoda cairan lengket keputihan. Para pemerkosanya kini kembali kepada Itsna yang makin ketakutan.

"Memangnya enak ya air mani kami?" kata seorang lelaki sambil memaksa Itsna menjilati leher penisnya yang belepotan sperma sehabis memperkosa Rahma tadi.
"Heh jawab!!"
"Aduhhh....nggak...nggak enak, hik...hu huuu," Itsna mengaduh dan menggeleng karena payudaranya tiba-tiba ditampar keras sekali. Air matanya mengalir di pipinya yang semula mulus tapi kini penuh cairan lengket. Bahkan kedua belah kacamatanya pun penuh noda itu. "Kalau nggak enak kok kamu nggak muntah kayak temanmu yang memeknya sudah jebol itu?"

Itsna diam saja, tapi terus dipaksa menyedot sperma dari penis para lelaki yang tadi memperkosa temannya. Tanpa setahu Itsna, para lelaki itu menyendoki sperma di memek Rahma dan yang belepotan di
sekujur tubuhnya lalu menampungnya di gelas. Terkumpul setengah gelas cairan putih kental yang berbau menjijikkan.

"Kalau ini pasti kamu nggak tahan, ayo diminum...ingat, begitu muntah, nasibmu seperti temanmu yang nggak punya jembut ini," kata si pemimpin sambil melepaskan jepit kertas di klitoris dan bibir memek Itsna. "Siap-siap kalau kamu nggak tahan," lanjutnya sambil mencabut beberapa helai jembut gadis itu. Itsna ketakutan, ia dipaksa duduk lalu kepalanya ditengadahkan. Jari-jari kasar para lelaki memaksa bibirnya yang indah membuka. Dan... isi gelas itu pun ditumpahkan sekaligus ke dalamnya! Pandangan mata Itsna kabur, rasa mual membuat isi perutnya hampir tumpah. Namun ia bertekad tidak akan muntah, sebab pemerkosaan lebih menakutkan baginya.

Seputar bibir Itsna tampak bernoda sperma. Tapi para lelaki itu memandang dengan heran sekaligus jengkel. Sebagian besar isi gelas telah ditenggak gadis itu, tapi ia tetap saja tidak muntah. "Coba yang ini!" kata seorang lelaki. Ternyata, ia telah memasang dua sedotan plastik ke dalam dubur Rahma. "Tadi, enam kali cewek ini
disodomi, kira-kira mani di dalamnya sebanyak setengah gelas," lanjutnya.

Itsna menahan rasa mualnya ketika dipaksa mengulum kedua puting susu Rahma yang penuh sperma. Ia juga dipaksa menyeruput isi memek Rahma yang tadi diperkosa berulang-ulang. Pada saat yang sama, bibir para
lelaki mulai menyentuh memek Itsna, menjilati dan seperti hendak memakannya, mengunyah labia minoranya yang basah dan kemerahan. Hingga akhirnya, dua sedotan itu dipaksa masuk ke bibirnya. Di bawah tatapan mata para lelaki, kecuali yang tengah menikmati memeknya, Itsna mulai menyedot. Sedotan bening itu kini terlihat putih cairan sperma yang masuk ke lubang pantat Rahma. Bulu kuduk Itsna meremang,
matanya terpejam menahan rasa mual karena aroma sperma yang telah masuk ke pantat Rahma begitu menjijikkan...Dan ... "Hoekhhhh..." Itsna tak tahan.

Satu muntahan kecil, mengeluarkan cairan kental yang cukup banyak, jatuh di pantat Rahma yang bundar. Serigala-serigala kelaparan itu tertawa melihat anak domba telah masuk perangkap. Itsna, anak domba itu, menjerit-jerit percuma saat tangan dan kakinya direnggangkan. Lalu si pemimpin, dengan penisnya yang amat besar dan panjang langsung menindihinya. Itsna histeris, rasa mual kini berganti perih tak terhingga saat memeknya dikoyak benda itu hingga berdarah-darah. Lalu nasibnya tak beda dengan Rahma, belasan lelaki bergiliran menyetubuhi memek dan pantatnya. Berkali-kali memeknya dimasuki sekaligus dua penis atau memek, pantat dan mulutnya diperkosa sekaligus.
***
Sekitar pukul 4 sore, kedua mahasiswi itu terkulai kelelahan di bawah kaki belasan lelaki. Tubuh keduanya betul-betul basah oleh cairan putih kental. Rasa sakit nyaris membuat bagian tubuh mereka mati rasa. Itu sebabnya kedua gadis manis itu hanya bisa mengerang lemah saat biji kedondong yang kasar dimasukkan ke dalam memek mereka.

Tapi keduanya menjerit histeris saat kedua puting susu masing-masing ditembus peniti. Apalagi masing-masing peniti dibanduli batu baterai besar. Dengan tangan terikat, kedua gadis itu kembali digelandang kedalam kijang box. Di dalam box, mereka terus mengalami siksaan dan hinaan. Itsna misalnya, dikuakkan bibir memeknya, lalu seorang lelaki menyundut klitorisnya dengan rokok hingga ia menjerit kesakitan.

Sementara di pantatnya yang bundar, seorang lelaki membuat tatto bergambar penis. Rahma juga menjerit ketika klitorisnya disemati peniti yang juga dibanduli baterai besar. Ternyata keduanya kembali dibawa ke kebun tebu. Di tempat itu, para lelaki menyiapkan kembali motor butut Rahma. Rahma dipaksa duduk di depan, lalu para lelaki mengikat pergelangan tangannya di setang. Baterai yang berayun-ayun di depan selangkangannya sungguh menyiksa, apalagi di dalam memeknya biji kedondong juga menimbulkan pedih tak
terperi.

Para lelaki itu lalu mendudukkan Itsna berpunggungan dengan Rahma. Tangan gadis itu diikat ke jok motor, begitu pula kedua pahanya yang mulus. Tidak cukup begitu, para lelaki mengikat sepasang payudara keduanya, masing-masing di pangkal sehingga buah-buah dada itu menggelembung. Lalu tali pengikat buah dada kanan Itsna ditarik dan disambung sehingga saling mendekat dengan buah dada kiri Rahma. Begitu pula payudara kirinya yang disambung dengan payudara kanan Rahma. Sementara cabikan-cabikan celana dalam dan BH keduanya disampirkan di kaca spion.

"Ayo, sekarang dislag!" perintah pemimpin pemerkosa sambil menyundut puting susu kanan Rahma hingga melepuh. Sambil menjerit dan menangis Rahma menstarter motornya dengan menahan sakit di klitorisnya. Sementara Itsna juga menangis sejadinya saat baterai yang menggantung di kedua putingnya diayun-ayunkan. Setelah berkali-kali dislag, mesin motor akhirnya hidup juga. Diiringi sorak para lelaki, tak kurang 8 batang rokok diselipkan masing-masing 4 di lubang memek keduanya.

Rahma langsung tancap gas, tanpa mempedulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Hari belum gelap ketika beberapa saat menjelang masuk perkampungan, bara rokok di memek keduanya sampai menyentuh kulit yang lembut. Ketiganya tak kuasa untuk menahan jerit dan tangis. Jeritan mereka mengundang perhatian orang kampung untuk keluar rumah.

Dan akhirnya, Rahma tak kuasa menahan sakit dan malu, ia pingsan di depan gapura masuk kampung. Motor itupun untuk kedua kalinya tergelimpang, kali ini dikerumuni warga kampung yang terheran-heran menyaksikan kedua gadis berjilbab tetapi telanjang itu...